-POV: Kiara-
Aku langsung beringsut ke balik pohon mangga di halaman menuju paviliun, menyembunyikan diriku. Mataku menatap nyalang ke arah Kirana.
Adik pertamaku itu telah mendekati Rendra yang sedang fokus pada ponselnya. Kirana tampak celangak-celinguk sebelum menyapa pria itu.
“Hai, Kak Ren. Lagi sibuk nggak?” Kirana menyembunyikan gelas kopi di belakang punggungnya.
Rendra mengangkat wajahnya yang terpasang datar. “Hhm … lumayan. Kenapa ya, Rana?”
Senyum malu-malu terbit di wajah Kirana. “Aku … tadi abis beli kopi. Terus keingetan Kak Rendra. Kak Rendra suka kopi, kan?”
Aku mencengkeram kulit batang pohon mangga. Hawa panas kembali menggelegak di dalam dadaku. Aku meremas bagian depan kausku.
Kirana menyorongkan kopinya ke hadapan Rendra. Lelaki itu terdiam, lama.
“Hhmm ... makasih Rana. Tapi, saya lagi ngurangin minum kopi. Cukup secangkir sehari. Kebetulan tadi sebelum kerja udah dibikinin Ara.” Rendra tersenyum canggung.
Remasan tanganku di kaus, melemah. Rasa sesak dan panas yang sempat mendera, berangsur raib.
Tangan Kirana yang menggantung di udara, bergetar. “Jadi Kak Rendra nggak mau ambil kopi ini? Sekedar ngehargain aku, gitu?” Suara Kirana terdengar menuntut.
“Maaf, Rana, terima kasih. Saya yakin temen-temen di dapur pada seneng banget kalau dikasih kopi. Sori, saya ke dalem, ya, ngecek tukang.” Rendra berdiri dan berlalu ke dalam paviliun.
Rahang Kirana mengetat. Ia berjalan ke arah teras dan masuk ke dalam rumah dengan langkah menghentak. Senyum kecil lepas begitu saja dari sudut bibirku.
***
Aku memutar bola mataku melihat adik bungsuku menuruni tangga sambil menggaruk-garuk tubuh. Rambut, dada, ketiak dan terakhir tangannya masuk ke dalam celana pendeknya, kembali menggaruk.
Silvia memekik. Ternyata, gadis itu juga melihat apa yang aku lihat. Kama menyeringai ke arahnya.
“Kenapa? Baru, ya, liat cowok bangun tidur?”
Silvia mengabaikan adikku. Ia memilih memakai headset di telinganya dan fokus pada layar laptop. Kama mencebikkan bibir.
“Mama mana, Kak?” Adikku minum air putih dari galon isi ulang yang dituang ke guci berkeran.
Aku bergeming, memilih berkonsentrasi mencicipi ayam betutu buatan Irma. “Ok, Ma.” Jariku membentuk simbol lingkaran.
“Budek apa gimana kamu, Kak? Aku nanya bae-bae, lho!” Tensi Kama mulai melonjak.
“Ya, kamu bangun sesiang ini, seenaknya banget hidup! Mama udah berangkat pagi-pagi banget, jam 6, buat terapi Papa. Nggak ada kamu kepikiran bantuin? Molor digedein!”
Wajah Kama mengeras. Napasnya memburu. “Nggak usah sok tahu, Kak! Alesan aku bangun siang juga karna keganggu sama kalian. Berisik, bau!
Gara-gara Kakak masak di sini, rumah makin nggak nyaman. Lagian aku juga capek nyari duit, ya. Aku nggak diem aja kayak si Kak Rana.”
Kama menatapku sengit. Genggamannya di gelas begitu ketat.
“Emang kamu ngapain?” Aku menaikkan sebelah alisku.
“Aku ngojek. Aku juga ngonten.” Kama melirikku sinis.
“Mana hasilnya? Mama ngeluh nggak ada yang bantu buat belanja di rumah," cecarku tak percaya ucapannya.
“Ya, belum! Namanya juga orang ngerintis.” Kama meletakkan gelas di bufet dengan kasar.
“Ngojek, kan, duitnya langsung keliatan,” kejarku.
“Ya itu buat modal ngonten. Aku ngonten tentang motor, sesuai passion aku.”
“Jangan dulu ketinggian, lah, Kama. Buat konten yang sederhana tapi bisa disukain.”
“Nggak usah sok nasehatin, Kak! Kamu ngilang lima taun ini. Kamu nggak ada di sini. Kita bisa bertahan aja udah bagus!” Suara Kama menggelegar.