-POV: Kiara-
Rendra terperanjat melihat Kirana yang beraksi bak gasing seret, berputar ke kanan dan kiri. Matanya melirik ke arahku.
“Kula, kan, makin gede nanti, pasti butuh kayak orang media gitu, kan? Buat branding atau promosi. Nah, aku bisa, Kak Rendra, bantuin bidang itu.
Aku, kan, juga content creator. Baru mulai juga, sih. Pas nganggur ini. Cuma … belum berhasil.” Kirana tersenyum hingga matanya menyipit. Cantik, aku harus akui itu.
Rendra menggosok tengkuknya. Ia meringis, matanya kembali tertuju kepadaku.
“Hhmm, untuk saat ini, urusan media branding dan promosi saya yang handle sendiri, Rana. Masih kepegang. Justru yang urgent banget, kan, tenaga buat di dapur.”
Rendra tersenyum tipis pada Kirana. Wajah adikku langsung mengeras seperti semen kering. Raut polos dan manja yang tadi ia pasang, menghilang.
“Itu, Silvia tarik aja ke dapur. Dia, kan, tim lama, nggak kayak aku yang baru tau Kula. Kalau orang lama minimal bisa bantu-bantu, lah, di dapur.”
Rendra tertawa sambil menggelengkan kepala. “Saya dan Ara itu sayang banget sama si Via. Dia udah kayak adek buat kita. Dia yang awal-awal bareng waktu Kula baru saya dan kakak kamu.
Jadi maaf, Via nggak akan saya geser. Kalaupun mau, dia saya promosiin, cariin anak buah. Tapi itu belum perlu, karena yang dibutuhin saat ini, ya, orang dapur,” pungkas Rendra tegas.
Aku mengulum tawa. Tanganku sibuk memainkan spatula, tak ada waktu menanggapi Kirana.
Aku menoleh sekejap ke arah Kirana dan Rendra. Kirana menatap geram padaku. Siapa peduli?
Rendra menghampiriku. “Makan siang bareng, ya, nanti. Jangan manyun terus. Biar ketutupan masker, keliatan tuh manyunnya.” Rendra menyentil bibirku yang tertutup masker.
Bak konser, anak buahku langsung kompak berteriak. “Aaaa, Mas Ren!”
“Aduh, Odah mimisan, nggak kuat ini mah, baper Odah!” Ceu Odah dengan dramatis memegang dadanya. Tawa pecah di dapur.
Rendra tersenyum simpul. Ia kembali ke paviliun lewat pintu belakang dapur Mama. Aku menggigit bibir, menahan senyum terkembang sekaligus desir yang berkelandan di hati.
Tawa anak buahku berhenti ketika Kirana menggebrak bufet. “Berisik! Tau aturan kalau numpang!” Kaki Kirana bergerak menuju lantai dua dan menubruk anak tangga dengan keras.
***
Aku baru selesai salat Isya, bersiap tidur. Penat tubuh sudah tak tertahankan. Beginilah nasib perintis.
Ketukan, koreksi, gebrakan terdengar di pintu kamarku. Aku mendengus kasar. Dengan malas-malasan, aku membuka pintu.
Wajah tertekuk adikku yang sebenarnya cantik terpampang di depan kamarku. Aku memutar bola mata, malas menanggapinya.
“Kenapa lagi, Rana? Aku capek, mau buru-buru tidur.”