Kula : Renovasi Rumah Penuh Luka

Inna Kurnia
Chapter #10

10 Tak Bisa Lanjut

Aku terdiam sejenak. Kirana dan Kama yang sedang duduk santai di sofa ruang tengah, tampak tak terpengaruh oleh keributan di kamar Papa.

Kirana masih asyik cekikikan. Entah apa yang lucu sehingga mengalahkan teriakan Papa dan Mama.

Kama sibuk bicara pada ponsel. Sepertinya ia sedang membuat video konten yang pernah ia sebut itu. Konten tentang motor, tapi syuting di tengah rumah? 

“Kalian diem aja denger Papa teriak-teriak kayak gitu?” Aku bersedekap sambil berbicara dengan nada datar.

“Alah, palingan Papa nggak terima keadaannya, kambuh lagi. Capek, ah, ngeladeninnya.” Kirana kembali menatap layar dan tertawa lagi.

Mataku berpaling ke arah Kama. “Kamu pengganti Papa, lho. Apatis banget sama keadaan.”

Wajah Kama keruh, rahangnya mengeras teramat jelas. “Karena aku sadar, ya, makanya aku usaha kayak gini! Nggak usah banyak komentar nggak jelas, ya, Kak.”

Kama bangkit dari duduknya dan berjalan dengan langkah terhentak. Derap kakinya di tangga terasa bergegas.

“Ganggu aja!” Kirana mengikuti jejak Kama. Mengotori pendengaranku dengan aksi menghentak-hentak lantai. 

Aku berjalan cepat menuju kamar Papa dan Mama. Pintu kubuka tanpa ketuk atau salam. 

Mama ada di tepi ranjang, menangis. Papa ada di kursi roda, ikut terisak. Ada pecahan vas bunga di lantai, berserak. 

Papa menghentikan tangisannya. Ia menatapku sendu. Aku melengos, merasa dongkol dengan drama kedua orang tuaku.

Mama mengusap wajahnya dengan punggung tangan. Tangan ringkih itu lalu bergesekan dengan daster kusamnya. Ia tersenyum ke arahku.

“Kak … tadi … Papa … marah gara-gara Mama paksa makan. Terus Mama bilang besok terapi.”

Aku mengangkat alis. “Harus teriak-teriak kayak tadi?” 

Papa menunduk. “Ca … pek.” Dua patah kata itu meluncur secara terbata.

“Kayaknya hidup emang tempat capek, deh. Nurut apa kata Mama aja, sih.” 

Aku langsung menutup pintu kamar. Ternyata, benar apa kata Kirana. Papa belum bisa menerima keadaan, padahal ini bukan stroke pertamanya.

Memang stroke pertama tidak separah kondisi sekarang. Namun, mau bagaimana lagi? Salah sendiri tak menjaga kesehatan!

***

Aku menghentikan langkahku mendengar sayup-sayup di kamar Kama. Suara Mama. Aku mendekat ke arah kamar adik bungsuku itu.

“Mama nggak bisa ngasih banyak, ya, Kama. Apa-apa lagi mahal. Emang harus kamu modif motor?” 

Suara Mama terdengar tak tegas. Pantas Kama jadi berani melawan.

“Ya, kan, buat keperluan konten, Ma. Kalau motornya biasa aja, mana menarik. Nanti kalau Kama berhasil, yang enak juga Mama, Papa, semuanya.”

Nada bicara Kama begitu persuasif, manipulatif untuk Mama yang lemah. Bocah itu pintar juga rupanya.

“Tapi, kan, Mama lagi butuh buat Papa berobat, nggak ada uang buat konten kamu.” Suara Mama mencicit.

“Kan, pake BPJS, Ma? Gratis, kan, itu?” Kama masih kukuh dengan mode ‘meminta tapi memaksa’.

“Gratis terapinya. Tapi ongkosnya gimana? Belum ada obat yang kadang nggak dibayarin BPJS. Belum Papa masih minta jajan.”

Dahiku mengerut mendengar ucapan Mama. Papa masih minta jajan? 

Tak sadar diri sekali, sakit masih mau makan seenaknya. Aku tahu pasti jajanan Papa adalah makanan ultragurih atau makanan berminyak serta bersantan. Musuh para penderita stroke.

“Ya udah, Mama mau ke Papa lagi.” 

Aku buru-buru menjauhi pintu kamar Kama, pura-pura berdiri di ambang tangga.

“Kak,” sapa Mama, mencoba hangat.

“Habis ngapain, Ma?” tanyaku seraya memicingkan mata.

Lihat selengkapnya