-POV: Kiara-
“Emang salah, milih Kula di sini. Harusnya aku ikut feeling-ku dari awal,” isakku tertahan di tenggorokan menimbulkan rasa panas yang menyiksa.
“Hei, kamu kenapa?” tanya Rendra dengan nada lembut dan tenang yang terjaga.
Aku menekur ke lantai kamar, bungkam karena lidah yang kelu. Rendra tersenyum tipis.
“Kagok, ya, ngobrol di pintu kayak gini. Kita ngobrol di Kula, yuk, di atas,” ajaknya seraya menarik tanganku.
Seperti terhipnotis, aku patuh pada ajakan Rendra. Kami melewati dapur, anak buahku langsung menoleh melihat kedatanganku.
Rendra memberi isyarat kepada semua dengan jari telunjuk yang tertempel di bibirnya. Kami berjalan terus ke arah pintu belakang.
Aku menapaki anak tangga minimalis menuju lantai dua Kula dengan langkah gamang. Hampir sebulan, renovasi ini nyaris rampung. Paviliun ini sudah berbeda bentuk dengan yang dulu. Ini adalah realisasi desain impian kami berdua.
“Kalau kamu nggak mau masak di sini, ada yang mau beli paviliun kamu nggak? Aku udah ngutang sama Papi, bingung bayarnya gimana nanti.”
Rendra duduk bersila di lantai dengan punggung bersandar di kusen jendela berukuran besar. Bibir mengerucut lucu sambil menatapku jenaka.
Bibirku berkedut dan akhirnya ujungnya tertarik tipis.
Rendra mendesah pendek. “Aku paham, nggak mudah buat kamu jalaninnya. Sebelum kita minta izin papa mama kamu, aku udah minta kamu yakinin diri kamu lagi, kan?”
Aku menipiskan bibir dan mengangguk perlahan. Namun, ternyata sesulit ini kembali ada di tengah racun keluargaku. Jika ada level racun, setidaknya mereka ada di tingkat membuat lumpuh—lumpuh otak dan perasaan.
“Kula ini selalu kita banggakan: konsepnya, mutunya, dan yang paling penting kebersamaan yang bikin Kula nggak cuma jadi tempat kerja, tapi juga rumah kedua.
Ini pekerjaan impian kamu, sandaran buat banyak orang. Nilai Kula terlalu besar untuk kalah, walaupun memang rasa nggak nyaman kamu itu nyiksa banget.”
Rendra berkata sambil menatapku lembut dengan senyum simpatik. Matanya begitu jernih membuat beban di hatiku terasa menguap saat memandangnya.
“Kalau ada banyak hal yang ngebebanin kamu, izinin aku bantu untuk angkat itu. Kita cari solusinya bareng-bareng,” lanjutnya dengan tatapan yang lekat padaku.
Pandangan kami saling mengikat. Kabut lembut perlahan menghalangi netraku. Aku segera menundukkan wajah.
Rendra benar, kalau aku menyerah, kami akan semakin kerepotan. Nasib Kula menjadi taruhannya.
Ini keluargaku, lelaki itu tak perlu repot mengurusnya. Ini bukan tanggung jawabnya, melainkan diriku sendiri.
Jemariku menyapu mataku yang basah. Aku menarik bibirku agar dapat memberikan Rendra senyum. “Iya, maaf, aku mau, kok, lanjut di sini.”
Lelaki itu ikut tersenyum. Kelegaan terpancar dari matanya. “Alhamdulillah. Ya udah, tolong bikinin aku kopi. Belum ngopi ini gara-gara ada yang galau,” pintanya dengan nada merajuk.
Aku memutar bola mata, tetapi berlanjut tertawa kecil yang disusul oleh Rendra.
***