-POV: Rendra-
Aku menghentikan mesin motorku begitu memasuki pekarangan rumah Kiara. Senyumku mengembang melihatnya menyambutku, tak seperti biasanya.
Perasaan jemawa itu tak berlangsung lama. Gadis itu berdiri dengan wajah gusar. Kerutan di antara alisnya terlihat begitu dalam.
Ia menghampiriku dengan langkah tergesa. Tadinya aku mau menggodanya, bergaya memberi telapak tanganku untuk ia cium, ala suami istri.
Kuurungkan niat itu begitu ia menyentuh lenganku, bahkan tak menungguku turun dari motor. Ini pasti urusan serius.
“Ren … uang belanja hari ini ilang,” lirihnya dengan nada campuran tak enak hati, bingung, dan marah. Jemarinya meremas lenganku.
Aku turun dari motorku. “Ilang gimana, Ra?” tanyaku untuk memastikan. Dadaku mulai berdetak kencang tak karuan.
“Ilang ya ilang! Dompet tempat aku biasa nyimpen uang kas, kosong. Aku inget banget, aku abis ngeluarin uang dari safety box, sebelum aku tidur. Aku simpen di laci. Aku takut kesiangan soalnya subuh kan bayar Pak Wawan.”
Aku terdiam, mencerna cerita Kiara. “Kamu biasa kayak gitu?” tanyaku lagi.
Kiara mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya.
“Ada yang tahu kebiasaan kamu?” cecarku sembari melirik ke arah dalam. Beberapa karyawanku telah mulai beraktivitas.
“Nggak,” jawabnya seraya menggeleng.
Aku mendesah panjang. Kami tidak terbiasa menyimpan uang kas dalam jumlah banyak. Hanya di kisaran 5 juta, apalagi sekarang serba non-tunai.
Penyuplai langganan kami ini adalah seorang kakek tua. Barang yang ia jual berkualitas dengan harga bersahabat. Ia lebih suka dibayar tunai.
“Ilang berapa?” Aku berharap tak semuanya.
“Tiga juta,” jawab Kiara pelan lalu kembali mengigit bibirnya.
Alhamdulillah, tak semuanya. Hanya saja, kemarin aku baru melunasi denda pada Pak Mandra, jadi persediaan uang dingin Kula memang berkurang. Uang sejumlah itu berharga bagiku di situasi seperti saat ini.
“Ada sesuatu yang nggak biasanya, Ra?” kejarku lagi.
Kiara terdiam. Matanya memejam dengan bibir terlipat ke dalam. Tak lama ia membuka matanya dengan cepat, wajahnya menggelap.
“Tadi malem aku kecapekan, perasaanku lagi nggak enak. Aku … lupa nggak ngunci pintu kamar.”
***
Aku menghela napas panjang. Beginilah menjadi pengusaha, banyak masalah. Orang hanya fokus di hasil akhirnya, tak melihat perjuangannya.
Aku bisa menoleransi kehilangan sejumlah tiga juta. Yang aku khawatirkan adalah ini menjadi kebiasaan yang tentu saja tidak kondusif bagi bisnisku.
Jika Kiara baru mengeluarkan uang itu sebelum tidur dan hilang mendekati subuh, berarti pelakunya adalah keluarganya. Bukan mau menuduh, hanya, mau siapa lagi?
Ayahnya, Om Arman, tentu saja dicoret dari daftar tersangka. Beliau sedang dalam mode bertahan hidup. Rasanya tak masuk akal punya pikiran kriminal.