Malam itu, Kota Naga dipenuhi cahaya gedung pencakar langit. Kendaraan otomatis melaju di jalanan, pesawat tanpa awak berpatroli di udara, dan layar digital raksasa menyiarkan berita tentang konflik antara Negara Naga Timur dan Federasi Utara. Kedua negara sedang memperebutkan Tambang Kristal Langit, sumber energi spiritual yang mampu meningkatkan kekuatan manusia hingga melampaui batas normal. Di dunia modern ini, teknologi telah berkembang pesat, tetapi kekuatan kultivasi tetap menjadi senjata paling ditakuti. Negara yang memiliki kultivator tingkat tinggi dapat menguasai wilayah, mengendalikan sumber daya, dan memaksa negara lain tunduk. Di balik perundingan damai, para jenderal mempersiapkan perang, para pengusaha menyuap pejabat, dan para klan kuno mengirim pembunuh untuk merebut tambang tersebut.Di sebuah kamar kontrakan sempit, Lin Yuan, pemuda berusia dua puluh tahun, sedang menatap dompet kosongnya. Ia berasal dari keluarga sederhana, bekerja paruh waktu sambil kuliah, dan sejak kecil dianggap tidak berbakat dalam kultivasi. Sementara teman-temannya telah mampu merasakan energi spiritual, Lin Yuan bahkan gagal melewati ujian dasar akademi pendekar.
Hebat sekali hidupku," gumamnya sambil mengangkat sebungkus mi instan. "Orang lain mengejar kekuatan, aku mengejar tanggal gajian."Ponselnya berbunyi. Pemilik kontrakan kembali menagih uang sewa. Lin Yuan menghela napas, lalu mengenakan jaket hitamnya. Ia memutuskan mencari pekerjaan tambahan malam itu. Namun, ketika melewati sebuah gang, ia mendengar suara seorang perempuan berteriak meminta pertolongan.Di ujung gang, seorang gadis cantik bernama Chen Xiaoyi sedang dikepung tiga pria berpakaian hitam. Gadis itu mengenakan pakaian putih dan menggenggam sebuah perangkat penyimpan data.
Serahkan peta tambang itu!" bentak pemimpin mereka. "Klan Harimau Hitam tidak akan membiarkanmu menghancurkan rencana kami!"
Chen Xiaoyi menatap mereka tajam. "Kalian menjual informasi kepada negara asing dan sengaja memicu perang. Kalian bukan pendekar, kalian pengkhianat!"Lin Yuan sebenarnya ingin segera pergi. Namun, ketika salah seorang pria mengangkat tangan untuk memukul gadis itu, ia melangkah maju.
"Heh! Tiga lawan satu? Kalian tidak malu?"
Pemimpin kelompok itu tertawa. "Bocah miskin sepertimu mau menjadi pahlawan?"
Lin Yuan mengangkat bahu. "Tidak juga. Aku cuma ingin tahu apakah kalian belajar sopan santun di sekolah atau di kandang harimau."Wajah pria itu berubah marah. "Hajar dia!"
Sebuah pukulan menghantam perut Lin Yuan. Ia terlempar ke dinding, lalu jatuh sambil memegangi tubuhnya.