BAB 1: Hanya Seorang Warga Sipil
Matahari baru saja mengintip dari balik cakrawala Benua Azure, menyebarkan semburat warna emas di atas Puncak Bambu Hijau. Di sana, di sebuah gubuk kecil yang terlihat reyot namun entah bagaimana selalu kokoh diterjang badai, seorang pemuda bernama Lu Chen sedang menguap lebar.
Dia mengenakan pakaian kain kasar, celana yang digulung hingga lutut, dan sebuah topi caping yang sudah agak kusam. Di tangannya, sebuah cangkul tua berkarat tampak biasa saja. Namun, jika ada seorang ahli kultivasi tingkat Kaisar yang lewat, mereka pasti akan langsung jatuh berlutut karena ketakutan. Mengapa? Karena setiap kali Lu Chen mengayunkan cangkul itu ke tanah, ruang di sekitarnya bergetar, seolah realitas itu sendiri takut akan robek.
"Hah... capai sekali," keluh Lu Chen sambil menyeka keringat di dahinya. "Sistem, kau benar-benar pelit. Sudah tiga tahun aku di sini, tapi statusku tidak berubah sedikit pun."
Sebuah panel transparan, yang hanya bisa dilihat olehnya, muncul di depan mata.
> [Status Pengguna]
> Nama: Lu Chen
> Tingkat Kultivasi: Nol (Warga Sipil Biasa)
> Bakat: Tidak Terdeteksi
> Keahlian: Mencangkul (Level Maksimal), Memasak (Level Maksimal), Menulis Kaligrafi (Level Maksimal), Beternak (Level Maksimal).
> Evaluasi: Anda adalah butiran debu di dunia kultivasi ini. Silakan berkebun dengan tenang agar tidak mati dimakan monster.
>
Lu Chen menghela napas panjang. "Tuh, kan. Butiran debu. Sistem, setidaknya beri aku satu jurus terbang atau bola api kecil begitu. Aku ingin terlihat keren seperti para kultivator yang sering lewat di langit itu."
Sistem tidak menjawab. Lu Chen sudah terbiasa. Dia adalah seorang transmigran dari Bumi yang berharap mendapatkan kekuatan luar biasa untuk menguasai dunia. Namun, kenyataan pahit menghantamnya. Sistem yang ia miliki justru memaksanya melakukan pekerjaan kasar setiap hari demi "bertahan hidup".
Dia menoleh ke arah kandang ayam di samping gubuknya. "Kur-kur... makan yang banyak ya," ucapnya sambil melemparkan segenggam gabah.
Ayam-ayam itu berebut makanan dengan agresif. Salah satu ayam jantan memiliki bulu merah membara yang berkilauan. Jika dunia tahu, ayam itu sebenarnya adalah Inferno Phoenix kuno yang sudah punah ribuan tahun lalu. Namun di mata Lu Chen, itu hanyalah "Ayam Jago yang agak emosian".
"Enyah kau, burung berisik!" Lu Chen mengibaskan tangannya saat seekor burung gagak hitam mencoba ikut mematuk gabah. Kibasan tangan yang dianggapnya biasa itu menciptakan gelombang kejut transparan yang melesat ke langit, membelah awan hingga sejauh seratus mil. Burung gagak itu—yang sebenarnya adalah Iblis Langit tingkat tinggi—langsung meledak menjadi kabut darah sebelum sempat bersuara.
"Nah, tenang sedikit," gumam Lu Chen tanpa menyadari dia baru saja memusnahkan ancaman bagi satu kerajaan.
Sementara itu, beberapa kilometer dari pondok Lu Chen, di dalam Hutan Kematian yang mengelilingi Puncak Bambu Hijau, suasananya jauh dari kata tenang.
"Cepat! Jangan biarkan dia lari!" teriak seorang pria dengan jubah hitam berlambang tengkorak.
Seorang gadis muda, berpakaian sutra putih yang kini robek dan berlumuran darah, berlari dengan napas tersengal. Dia adalah Lin Xiaoyun, putri suci dari Sekte Awan Putih. Di tangannya, dia memeluk sebuah kotak giok kecil yang berisi pusaka sekte yang dicuri.