BAB 3: Aroma yang Mengguncang Kerajaan
Panci tanah liat di dapur Lu Chen mulai mengeluarkan uap putih yang harumnya tidak masuk akal. Bagi Lu Chen, ini hanyalah sup ikan dengan bumbu jahe dan bawang putih hasil kebun sendiri. Namun, bagi dunia luar, aroma ini adalah manifestasi dari Dao yang murni.
Wangi itu menyebar keluar dari Puncak Bambu Hijau, menembus formasi pelindung alami hutan, dan melesat ribuan mil melintasi perbatasan Kerajaan Angin Surgawi.
Di ibu kota kerajaan, seorang lelaki tua dengan jubah megah namun wajahnya sepucat kertas sedang duduk bermeditasi. Ia adalah Kaisar Zhao, penguasa Kerajaan Angin Surgawi, seorang ahli ranah Soul Transformation yang sedang di ambang kematian karena racun kutukan.
Tiba-tiba, hidungnya kembang kempis.
"Aroma ini... esensi kehidupan yang begitu kuat?" Mata Kaisar Zhao terbuka lebar. "Hanya dengan menghirup aromanya dari kejauhan, racun di tubuhku terasa ditekan! Siapa... siapa pakar yang sedang memasak pil obat tingkat dewa ini?!"
Tanpa mempedulikan protokol kerajaan, sang Kaisar langsung terbang melesat menuju sumber aroma: Puncak Bambu Hijau yang selama ini dianggap sebagai zona terlarang.
Di pondok, Lu Chen menyajikan dua mangkuk sup ikan mas yang mengepul. "Ayo makan, Nona Lin. Sup ini bagus untuk menghangatkan badan. Ikan sungai ini agak sedikit keras sisiknya, tapi dagingnya lembut."
Lin Xiaoyun menatap mangkuknya dengan tangan gemetar. Di dalam kuah bening itu, potongan daging ikan memancarkan cahaya keemasan. Ini bukan sekadar makanan; ini adalah baptisan energi.
"T-terima kasih, Tuan Lu," ucapnya lirih. Begitu sesendok kuah menyentuh lidahnya, Lin Xiaoyun merasa seolah-olah jiwanya sedang terbang melintasi sembilan langit.
BRAKK!
Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari luar gerbang pagar. Seseorang jatuh dari langit tepat di depan halaman Lu Chen.
Lu Chen tersedak sedikit. "Aduh, siapa lagi itu? Apa puncak gunung ini sekarang jadi tempat latihan terjun payung?"
Ia meletakkan sendoknya dan berjalan ke luar. Di sana, seorang lelaki tua (Kaisar Zhao) sedang berlutut, napasnya tersengal-sengal. Sang Kaisar baru saja mendarat, namun tekanan aura dari anjing hitam yang sedang tidur di bawah pohon (Serigala Pemakan Bulan) hampir membuatnya pingsan.