BAB 4: Pupuk Lebih Penting daripada Takhta
Kaisar Zhao masih terpaku menatap pintu gubuk. Raja Iblis—pria yang hampir menghancurkan kerajaannya—baru saja dimusnahkan oleh sebuah sandal kayu yang bahkan tidak memiliki ukiran magis. Baginya, ini adalah pembuktian bahwa bagi Lu Chen, ancaman tingkat dunia hanyalah gangguan kecil seperti lalat.
"Kek, kok melamun? Ayo dihabiskan supnya, mubazir kalau dingin," tegur Lu Chen sambil membereskan piring-piring kotor.
Kaisar Zhao tersentak, lalu segera berdiri dengan sikap paling hormat yang pernah ia lakukan seumur hidupnya. "Tuan Lu... budi Anda tidak terukur. Anda telah menyelamatkan nyawa saya dan juga menghancurkan musuh besar kerajaan saya. Saya bersedia memberikan apa pun—emas, wilayah, bahkan takhta saya—sebagai imbalan!"
Lu Chen berhenti mengelap meja. Ia menatap Kaisar Zhao dengan tatapan prihatin. Kasihan sekali kakek ini, sepertinya penyakitnya kemarin lari ke pikiran. Mengaku punya takhta segala.
"Aduh, Kek... saya tidak butuh takhta. Buat apa saya jadi raja kalau harus mengurus orang banyak? Ribet," Lu Chen tertawa kecil. "Tapi, kalau Kakek memang merasa berhutang budi, saya sebenarnya sedang butuh bantuan."
Kaisar Zhao langsung tegak. "Sebutkan saja, Tuan Lu! Apakah Anda butuh Senjata Langit? Atau mungkin jantung Naga Kuno?"
"Bukan, bukan," Lu Chen melambaikan tangan. "Begini, kebun sawi saya sedang kurang subur. Saya butuh pupuk kandang kualitas super dan sedikit uang untuk beli benih jagung di pasar kota. Tapi perjalanan ke kota lewat hutan ini cukup jauh dan melelahkan bagi warga sipil seperti saya. Kalau Kakek mau, tolong bawakan karung sayur ini ke pasar dan jualkan. Hasilnya buat beli pupuk ya?"
Lin Xiaoyun yang berdiri di pojok ruangan hampir tersedak ludahnya sendiri. Seorang Kaisar penguasa jutaan rakyat disuruh jadi kuli panggul sayur untuk beli pupuk?!
Kaisar Zhao tertegun sejenak, namun kemudian matanya berbinar. Tunggu... ini pasti ujian! Senior sedang menguji kerendahan hatiku. Jika aku bisa menjual sayur 'Dewa' ini, itu artinya aku diakui sebagai pengikutnya!
"Dengan senang hati, Tuan Lu! Saya akan menjalankan misi suci ini dengan nyawa saya!" seru Kaisar Zhao penuh semangat.