Kultivator Terkuat yang Mengira Dirinya Warga Sipil.

P12
Chapter #5

BAB 5: "Perampok" Berkereta Emas

BAB 5: "Perampok" Berkereta Emas

Tiga hari telah berlalu sejak "si kakek pengembara" pergi membawa keranjang sayur Lu Chen. Kehidupan di Puncak Bambu Hijau kembali ke rutinitas yang membosankan. Lu Chen menghabiskan waktunya mencoba cangkul barunya yang—menurutnya—hanya sedikit lebih mengkilap daripada yang lama.

"Hah, Sistem... cangkul ini memang anti karat, tapi tetap saja berat," keluh Lu Chen sambil menyeka keringat.

Ia tidak tahu bahwa setiap kali mata cangkul itu menghujam tanah, ia sebenarnya sedang memperbaiki simpul-simpul energi bumi yang rusak. Gunung itu menjadi semakin kokoh, dan konsentrasi energi di sana sudah cukup untuk membuat siapa pun yang bermeditasi di dekatnya naik level dalam hitungan jam.

Tiba-tiba, telinga Lu Chen menangkap suara gemuruh dari kaki gunung.

Gedebuk! Gedebuk! Gedebuk!

"Suara apa itu? Apa ada longsor?" Lu Chen memicingkan mata ke arah jalan setapak yang menuju ke gubuknya.

Dari balik pepohonan, muncul iring-iringan yang sangat panjang. Ada puluhan kereta kuda yang dihiasi sutra merah, dikawal oleh ratusan prajurit berbaju zirah emas yang berkilauan. Di depan barisan, Kaisar Zhao (yang sekarang sudah berganti pakaian kebesaran yang sangat mewah) memimpin dengan wajah berseri-seri.

Lu Chen melompat kaget. "Waduh! Perampok?! Atau... penagih hutang?!"

Ia segera berlari ke dalam gubuk dan mengambil kapaknya. "Nona Lin! Cepat sembunyi! Ada segerombolan orang kaya bersenjata datang ke sini! Mungkin mereka mau menggusur tanah kita untuk bangun vila!"

Lin Xiaoyun keluar dari dapur dengan wajah bingung. Begitu ia melihat panji-panji Kerajaan Angin Surgawi, ia langsung mengenali siapa yang datang. "Tuan Lu, itu sepertinya—"

"Sstt! Jangan keluar dulu!" Lu Chen berdiri di depan gerbang pagarnya dengan kapak di bahu, mencoba terlihat garang (meskipun di mata orang lain, ia terlihat seperti Dewa Perang yang sedang bersiap membelah langit).

Kaisar Zhao turun dari kudanya dan langsung berlutut di tanah, sekitar sepuluh meter dari pagar Lu Chen. Ratusan prajurit di belakangnya ikut berlutut serentak, menciptakan suara dentuman zirah yang menggetarkan hutan.

"Senior Lu! Saya kembali untuk menjalankan amanah Anda!" teriak Kaisar Zhao dengan penuh rasa syukur.

Lihat selengkapnya