Kumpulan Fiksi Mini (yang mengganggu)

HELLOHAYDEN
Chapter #4

Sebuah Janji yang Ditepati

Lampu utama ruang keluarga itu mati namun tetap semarak sebab digantikan oleh cahaya warna-warni berseliweran sana-sini mengenai dinding, plafon dan segala perabotan yang tertata rapi. Tiga orang–dua perempuan dan satu laki-laki–bersorak gembira, bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Seorang perempuan, mengenakan cocktail dress merah tua, berdiri malu-malu di sebalik meja dengan hidangan tart angka delapan belas. Tidak ada orang yang lebih tua di sana, semuanya tampak pada usia yang sama.

“Make a wish! Make a wish!” seru salah seorang perempuan yang bertepuk tangan saat lagu itu sudah usai. “AKU INGIN TERUS BERSAMA RIKO!” seru si perempuan yang berulang tahun tak kalah semangat sambil menunjuk satu-satunya laki-laki di ruangan itu. Yang ditunjuk tampak tersenyum puas dan bangga sambil mengangguk. “Janji?” tanya si perempuan lagi.

“Ya, babe. Janji.” Laki-laki yang disebut sebagai Riko ini mendekati si perempuan, tidak lama kelingking mereka bertautan. Mereka tersenyum dan berbalas tatap dengan mesra.

Tiga bulan kemudian, saat mereka tamat SMA, Riko itu terpaksa tidak melanjutkan kuliah. Dia harus mengalah sebab perut lebih mendesak dari pada otak. Sebulan sebelum kelulusan, satu musibah menimpa keluarganya yang membuat hanya dia sendiri yang berada di atas tanah. Dia bukan orang yang akan kaya jika orang tuanya meninggal. Bukan warisan justru surat hutang yang dia dapatkan. Pacarnya, yang enam bulan lalu berulang tahun itu, sepertinya malu dengan kondisi Riko saat ini. Mereka tidak pernah lagi tampak berdua sejak berfoto setelah kelulusan. Sekalinya tampak berdua lagi, justru dalam satu pertengkaran di  laboratorium sekolah setelah sebulan dari kelulusan saat keduanya mengurus legalitas ijazah.

 

***

Lihat selengkapnya