Kuputar-putar gelas sebelum meminum isinya. Perempuan di hadapanku ini duduk, wajahnya menunduk saja hingga poni panjangnya itu terjuntai menutup nyaris seluruh wajahnya.
“Dengar,” kataku, setelah meneguk air, kuletakkan gelas ke meja hingga berdetuk, “aku ini pulang-pulang sudah dalam keadaan lelah. Kerja seharian. Pergi pagi pulang malam.”
Tak ada jawaban, dia setia bungkam. Kubuang wajah ke kanan, menghirup napas lalu membuangnya setengah putus asa. “Kau sudah kubiarkan di sini, di rumah ini, tanpa menyewa sama sekali. Siang malam kau bebas berkeliaran. Pakailah setiap sudut rumah ini sesukamu, kau tahu betul aku tak di rumah sepanjang siang.” kataku lagi.
Wajahnya mulai terangkat pelan-pelan. Ditatapnya aku keheranan, lebih tepatnya dia menantapku seolah aku yang menumpang. Jari-jarinya yang putih sangat itu dia naikkan ke meja dan mulai mengetuk-ngetuk. Tanpa sadar kepalaku menggeleng atas aksinya. Apa yang sebenarnya dia pikirkan?
Aku ini lelah. Hanya malam saja berada di rumah. Benar-benar untuk tidur sebelum besok subuh harus berangkat lagi,” ucapku yang mulai kehabisan sabar menghadapi perempuan satu ini.
Dia masih menanatpku, malah sepertinya menungguku berbicara lebih. Kepalanya itu dimiringkannya.