Kunang-Kunang Hitam

Difa Jagga
Chapter #1

Luka Yang Menjadi Racun

Waktu menunjukkan pukul 23.30.

Malam Minggu membuat klub malam terbesar di kota Malang dipenuhi lautan manusia.

Dentuman musik EDM menghantam dinding-dinding klub tanpa ampun, berpadu dengan kilatan lampu warna-warni yang bergerak liar, seolah tak memberi kesempatan kepada siapa pun untuk berpikir jernih.

Udara dingin dari pendingin ruangan bercampur dengan aroma alkohol, asap rokok, parfum mahal, dan irisan apel segar yang menjadi ciri khas klub tersebut.

Sebagian orang datang untuk melupakan penat setelah menjalani hidup yang melelahkan. Sebagian lainnya menari tanpa arah di tengah kerumunan, menenggelamkan diri dalam musik dan minuman, seolah malam itu adalah kesempatan terakhir untuk melarikan diri dari kenyataan.

Di sudut bar, beberapa pria paruh baya tertawa keras sambil membicarakan bisnis, uang, dan perempuan, seolah hidup mereka baik-baik saja. Padahal, mata mereka terlihat kosong.

Bagi sebagian orang, tempat itu adalah pelarian. Tempat untuk menutupi luka dengan alkohol dan tawa palsu. Tempat di mana manusia bisa berpura-pura bahagia selama beberapa jam, sebelum kembali menghadapi kehidupan mereka yang sebenarnya.

Namun bagi Nalla, tempat itu bukan pelarian. Tempat itu adalah pengingat.

Setiap malam ia berdiri di antara manusia-manusia mabuk yang tertawa terlalu keras. Nalla selalu merasa dirinya seperti bayangan yang tersesat di dunia orang lain.

Ia melayani minuman, memasang senyum ramah, dan menerima tatapan-tatapan lapar yang membuat kulitnya terasa semakin kotor. Akan tetapi, tak satu pun dari mereka yang benar-benar mengenalnya.

Mereka hanya melihat seorang pelayan klub malam. Bukan seorang gadis perempuan yang hidupnya telah hancur di tangan seseorang yang seharusnya menjadi pelindungnya.

Di balik meja bar, Nalla berdiri mematung sambil menatap segelas koktail di tangannya. Cairan bening itu tampak biasa saja. Tenang, tidak berwarna, dan tidak mencurigakan.

Tak ada seorang pun yang tahu bahwa beberapa tetes racun telah bercampur di dalamnya.

Jari-jari Nalla sedikit gemetar. Untuk sesaat, bayangan masa kecil muncul di kepalanya. Samar dan kabur, tetapi cukup untuk membuat dadanya terasa sesak.

Ia teringat seorang pria yang dulu pernah menggendongnya di pundak sambil membelikan permen sepulang dari pasar.

Pria yang sama yang kini ingin ia bunuh.

Nalla memejamkan mata sebentar. Rahangnya mengeras.

“Sudah terlambat untuk ragu,” bisiknya lirih.

Meski begitu, langkahnya tetap terasa berat.

Semakin dekat ia menuju meja pria itu, semakin keras jantungnya berdetak. Telapak tangannya mulai dingin, sementara ingatan-ingatan lama bermunculan tanpa bisa dicegah.

Ia teringat suara tangisan kecilnya sendiri. Teringat ketika dirinya ditarik paksa, sambil memohon agar seseorang yang tangannya pernah ia genggam tidak melepaskannya.

Namun laki-laki itu tetap tidak menghiraukannya.

Melepaskannya seperti barang yang tak lagi berharga.

Nalla menggenggam nampan itu lebih erat.

Tiga belas tahun.

Ia telah hidup selama tiga belas tahun dengan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Luka yang tumbuh perlahan menjadi kebencian, lalu berubah menjadi racun yang mengalir di seluruh hidupnya.

Dan malam ini, semuanya akan berakhir.

“Tuan, ini pesanannya. Satu gelas koktail.”

Lihat selengkapnya