Kunang-Kunang Hitam

Difa Jagga
Chapter #2

Dia Mati, Tapi Tetap Gelap

Nalla tersenyum samar.

“Minuman yang menghancurkan hidupku, sekarang akan mengakhiri hidupmu.” Suaranya lirih dan dingin. “Aku harap Tuhan masih mau mendengarkan doa seorang pendosa sepertimu.”

Beberapa detik setelah kalimat itu terucap, pria tersebut masih terdiam di tempatnya. Tatapannya kosong, seolah belum mampu memahami apa yang baru saja dikatakan Nalla.

Lalu perlahan, napasnya mulai terasa berat. Tangannya bergerak gemetar mencengkeram dada. Wajahnya yang sejak tadi pucat kini semakin kehilangan warna, sementara keringat dingin mulai membasahi pelipis dan lehernya.

“A-apa yang … kau lakukan?” Suaranya terdengar pecah dan tersengal.

Nalla tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana sambil menatap laki-laki yang dulu pernah ia banggakan.

Tubuh pria itu mulai limbung. Napasnya semakin kacau, seperti seseorang yang sedang berusaha bertahan hidup di detik-detik terakhirnya.

“A-ampuni aku …” Suaranya bergetar lemah.

Tatapan matanya dipenuhi kepanikan, tetapi semua itu datang terlambat.

Nalla tetap diam. Ia hanya menatap wajah pria itu yang kini terlihat begitu ketakutan.

Bukannya merasa iba atau bersalah karena telah memberikan racun kepada pria itu, Nalla justru tersenyum tipis. Seolah-olah rasa takut yang dulu pernah ia rasakan, kini berbalik menghampiri laki-laki itu.

Akan tetapi, semua itu ternyata tidak membuat luka di dalam dirinya sembuh. Yang muncul justru perasaan aneh yang perlahan memenuhi dadanya.

Perasaan apa ini?

Gumam Nalla dalam hati.

Tubuh pria itu melemah perlahan. Kakinya limbung sebelum akhirnya refleks memeluk tubuh Nalla dengan sisa tenaga yang dimilikinya.

Sepersekian detik, tubuh Nalla membeku. Pelukan itu terasa asing, tetapi hangat dan sangat menyakitkan.

Untuk sesaat, Nalla ingin menangis seperti anak kecil. Ingin bertanya mengapa hidupnya dihancurkan begitu saja. Ingin berteriak bahwa ia hanya ingin memiliki kehidupan yang normal dan bahagia.

Namun semua itu sudah terlambat. Sangat terlambat.

Nalla perlahan melepaskan pelukan tersebut. Tubuh pria itu ambruk ke lantai.

Dentuman musik tetap menggema keras di seluruh ruangan. Tak ada yang benar-benar peduli. Sebagian pengunjung hanya melirik sekilas sebelum kembali tertawa dan minum, mengira pria itu mabuk berat seperti pelanggan lainnya.

Nalla berjongkok di samping tubuh pria itu. Ia mengangkat perlahan kepala laki-laki yang usianya hampir 57 tahun, sambil menatap wajah yang pernah begitu ia rindukan semasa kecil.

Kini, wajah itu justru terasa asing.

Mata yang dulu pernah ia cari setiap kali merasa takut, kini perlahan kehilangan cahaya kehidupan di hadapannya.

Dada Nalla terasa bergemuruh. Untuk sesaat, ia hanya diam sambil menatap wajah tersebut tanpa berkedip.

“Bawa semua dosamu sampai mati…” bisiknya lirih.

Tangannya perlahan melepaskan kepala pria itu kembali ke lantai.

Dentuman musik masih menggema keras di seluruh ruangan, seolah dunia tetap berjalan normal meski seseorang baru saja kehilangan nyawa beberapa meter dari keramaian.

Nalla menarik napas panjang.

Lalu perlahan, wajahnya berubah panik.

“Tolong!” teriaknya keras. “Tolong, ada yang jatuh! Mulutnya berbusa!”

Suaranya langsung menarik perhatian beberapa pengunjung di sekitar sana. Orang-orang mulai menoleh, beberapa segera mendekat dengan wajah bingung dan panik.

“Mulutnya berbusa!”

“Panggil ambulans!”

“Cepat!”

Situasi klub malam mendadak berubah kacau.

Namun, di tengah kepanikan itu, Nalla hanya menatap tubuh pria tersebut dalam diam. Tak ada rasa lega, tak ada pula kemenangan. Yang tersisa hanyalah kehampaan besar yang perlahan menelannya hidup-hidup.

Lihat selengkapnya