Kunang-Kunang Hitam

Difa Jagga
Chapter #3

Sunyi Yang Berbicara

Nalla mendekam di dalam sel tahanan sementara kantor polisi.

Ia duduk di sudut ruangan dengan kedua lutut tertekuk, punggung bersandar pada dinding dingin yang lembap. Tatapannya kosong menembus jeruji besi di depannya, seolah tak ada lagi yang tersisa untuk dipikirkan ataupun dipertahankan.

Wajahnya tampak pucat, bibirnya kering. Matanya sembap, tetapi anehnya tidak menunjukkan bekas tangisan. Sejak semalam, tubuhnya terasa sangat lelah, namun pikirannya tetap terjaga tanpa ampun.

Di dalam sel itu terdapat dua perempuan lain. Mereka sesekali berbicara pelan, tertawa kecil, lalu kembali mengeluh tentang nasib masing-masing. Hidup tetap berjalan bagi mereka.

Namun tidak bagi Nalla.

Sejak semalam, Nalla hampir tidak bergerak sama sekali. Ia hanya diam.

Diam yang terlalu sunyi untuk disebut tenang.

Ada apa dengan diriku?

Kenapa aku belum merasa lega dan puas?

Pertanyaan itu terus bergema dalam pikirannya.

Nalla menghela napas, pikirannya masih tertuju pada malam ia menghabisi laki-laki yang membuat ibunya pun harus meregang nyawa karena dirinya.

Matanya terpejam sesaat. Ia mencoba mengusir semua kenangan tentang lelaki itu, tetapi bayangan masa lalu justru terus bermunculan dalam pikirannya.

Hingga tak terasa, pagi perlahan datang, membawa cahaya pucat yang menyelinap masuk lewat sela-sela jeruji. Akan tetapi, cahaya itu tidak banyak mengubah apa pun.

Nalla masih berada di posisi yang sama.

Matanya terbuka, tetapi tampak lelah. Ia tidak tidur semalaman.

Setiap kali mencoba memejamkan mata, bayangan tubuh lelaki itu kembali menghantuinya. Mulut berbusa, napas tersengal, dan tatapan ketakutan yang perlahan kehilangan nyawa.

Anehnya, semua itu terus menghantui pikirannya tanpa benar-benar membuatnya merasa bersalah. Yang ia rasakan justru kosong.

Kosong yang begitu besar hingga terasa menyesakkan.

Bahkan, ia tidak menyadari ada langkah kaki yang mendekat.

Seorang polisi perempuan berhenti di depan sel sambil membawa nampan berisi makanan. Tubuhnya tegap, wajahnya datar dan penuh kewaspadaan.

Ia meletakkan tiga piring nasi beserta tiga gelas air di dekat jeruji.

“Sarapan.” Ucap petugas itu datar.

Dua tahanan lain segera bergerak mengambil makanan mereka, sementara Nalla tetap diam di sudut ruang tahanan.

“Kamu enggak makan?” tanya salah satu tahanan sambil meliriknya.

Tidak ada jawaban dari Nalla.

Perempuan itu mendecih.

“Bisu, ya?”

Temannya tertawa pelan.

“Atau mungkin lagi stres habis melakukan kejahatan.”

Keduanya terkekeh.

Namun Nalla sama sekali tidak bereaksi. Tatapannya tetap kosong ke depan. Bahkan untuk marah pun ia terlalu lelah.

Perutnya sebenarnya terasa perih karena kosong, tetapi ia tidak memiliki keinginan untuk makan.

Rasanya aneh. Dulu ia berpikir setelah laki-laki itu mati, dirinya akan merasa bebas. Namun sekarang, bahkan untuk sekadar menelan makanan pun terasa sulit.

Beberapa menit kemudian, seorang polisi laki-laki datang menghampiri sel.

“Saudari Nalla, keluar.”

Nalla perlahan bangkit. Tubuhnya sedikit limbung karena sejak semalam belum makan apa pun.

Seorang polisi perempuan membuka pintu sel lalu memasang borgol di kedua tangannya. Logam dingin itu menempel erat di kulitnya.

“Anda akan menemui penyidik,” ucap polisi tersebut tegas. “Ikuti kami dan jangan membuat masalah.”

Nalla mengangguk pelan.

Ia dibawa melewati lorong sempit bercat kusam. Aroma kopi, kertas, dan asap rokok bercampur memenuhi udara kantor polisi itu.

Beberapa polisi tampak berlalu-lalang sambil membawa berkas. Suara ketikan keyboard terdengar samar dari ruangan lain.

Lihat selengkapnya