Tiga hari telah berlalu.
Nalla kembali duduk di ruang interogasi yang sama. Dinding ruangan itu masih terasa dingin dan pengap, sementara lampu putih di atas kepalanya menyala terlalu terang hingga membuat matanya terasa lelah.
Rangga dan Devina kembali duduk di hadapannya. Sebuah map berisi berkas tampak terbuka di atas meja. Beberapa lembar kertas terlihat memenuhi permukaannya, seolah menyimpan begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab.
“Kali ini, saya harap Anda mau bicara,” ujar Rangga sambil menatap Nalla lekat.
“Jangan mempersulit kami,” tambah Devina dengan nada yang lebih lembut.
Nalla tidak langsung menjawab. Tatapannya jatuh ke permukaan meja di depannya. Jemarinya bergerak pelan, saling menggenggam satu sama lain, seperti sedang menahan sesuatu yang terus berusaha keluar dari dalam dirinya.
Namun Nalla tetap diam.
Ia tahu, pertanyaan-pertanyaan itu akan kembali membawanya pada sesuatu yang selama ini berusaha ia kubur.
Ruangan itu mendadak terasa sangat sunyi.
“Nama asli Anda?” tanya Rangga akhirnya.
Pertanyaan sederhana itu justru membuat napas Nalla tertahan sejenak.
Perlahan, ia mengangkat wajah. Ada sesuatu yang berubah di matanya saat pertanyaan itu muncul. Sesuatu yang rapuh. Sesuatu yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam.
Bibirnya bergerak pelan.
“Sekar...”
Suaranya begitu lirih hingga hampir tak terdengar.
Untuk sesaat, Nalla terdiam setelah menyebut nama itu. Seolah nama tersebut terasa asing di telinganya sendiri. Nama yang dulu pernah ia miliki sebelum hidupnya hancur. Nama seorang anak perempuan yang pernah percaya bahwa dirinya akan dicintai dan dilindungi.
“Nama saya Sekar Gayatri,” lanjutnya pelan.
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.
Sudah terlalu lama tidak ada yang memanggilnya dengan nama itu. Nama itu adalah nama pemberian ayahnya, dengan harapan gadis itu menjadi bunga yang tumbuh dalam doa.
Sayangnya, arti nama itu tak sesuai dengan hidup yang ia jalani.
Jauh... sangat jauh.
“Sejak kapan berubah menjadi Nalla?” tanya Devina.
Nalla terdiam cukup lama. Tatapannya kosong ke arah meja.
“Sejak usia empat belas tahun.”
“Siapa yang memberi nama itu?”
Jari-jari Nalla bergerak pelan, saling mengerat satu sama lain.
“Dari seseorang.”
“Siapa?”
Nalla tidak langsung menjawab. Napasnya terdengar sedikit lebih berat. Ia menunduk, seolah pertanyaan sederhana itu kembali menyeretnya pada sesuatu yang tidak ingin ia ingat.
“Bukan nama yang aku pilih,” ucapnya pelan.
Rangga mencondongkan tubuh.
“Lalu?”
Suasana kembali hening. Beberapa detik terasa jauh lebih panjang dari seharusnya.
“Nama itu diberikan.”
Rangga mulai kehilangan kesabaran.
“Diberikan oleh siapa?” tanyanya tegas. “Kamu terus mengulang kalimat yang sama.”
Tenggorokan Nalla terasa kering. Ia mencoba membuka bibirnya, tetapi kata-kata terasa tertahan. Tatapannya mulai goyah.
“Anda terus menekan saya dengan pertanyaan tentang asal nama Nalla. Apa itu ada hubungannya dengan kasus di klub itu?” tanya Nalla, sedikit geram.
Rangga menatap Nalla tajam.
“Kamu seorang pembunuh. Kamu enggak berhak membantah apa yang kami katakan.”
Nalla menyeringai tipis.
“Bagaimana Anda tahu saya pembunuh?”
Rangga dan Devina saling bertukar pandang. Mereka melihat sesuatu yang berbeda di mata Nalla. Sorot matanya tidak seperti kebanyakan orang.