Kunang-Kunang Hitam

Difa Jagga
Chapter #5

Ingatan Yang Membusuk

Hampir dua minggu Nalla mendekam di sel tahanan sementara kantor polisi.

Belum ada keputusan pasti mengenai kasus yang menjeratnya.

Berita tentang pembunuhan seorang pria di klub malam memang sempat ramai dibicarakan, tetapi perlahan mulai tenggelam oleh berita-berita lain. Namun, bagi polisi yang menangani kasus itu, semuanya belum selesai.

Nalla terlalu banyak diam dan tidak terbuka. Setiap jawaban yang keluar dari mulutnya terdengar singkat dan datar, seolah sengaja dibatasi agar tidak ada seorang pun yang bisa masuk lebih jauh ke dalam kehidupannya.

Rangga mulai frustrasi menghadapi perempuan itu. Devina masih berusaha memahami sikap Nalla. Sementara itu, Hana memilih bersabar, berharap perlahan bisa mengikis dinding pertahanan yang dibangun Nalla sedikit demi sedikit.

Pagi itu, Nalla kembali duduk di ruang konsultasi Hana.

Ruangan itu memiliki dinding berwarna krem pucat. Aroma kopi samar bercampur dengan wangi lavender yang memenuhi udara. Tidak ada suara bentakan ataupun tatapan penuh tekanan seperti yang biasa ia temui di ruang penyidik.

Namun, Nalla tetap bersikap dingin dan acuh tak acuh.

Ia duduk diam dengan kedua tangan bertumpu di pangkuan. Borgolnya sudah dilepas sejak beberapa menit lalu, tetapi jemarinya masih tampak tegang, seolah tubuhnya lupa bagaimana rasanya bebas.

Hana duduk di hadapannya sambil membuka catatan kecil.

“Bagaimana keadaanmu hari ini, Nalla?” tanyanya lembut.

“Masih sama.”

Jawaban itu terdengar datar, tanpa ekspresi sedikit pun.

Hana mengamati wajah perempuan di hadapannya selama beberapa detik. Lingkar hitam di bawah mata Nalla tampak semakin jelas. Tubuhnya kurus, tetapi bukan itu yang paling menarik perhatian Hana.

Melainkan tatapan matanya yang kosong. Seperti seseorang yang terlalu lama hidup dalam gelap hingga lupa bagaimana rasanya melihat cahaya.

“Apakah kamu tidur semalam?” tanya Hana lagi.

Nalla menggeleng pelan.

“Masih mimpi buruk?”

Hening. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Nalla menjawab pelan.

“Aku tidak tidur cukup lama untuk bermimpi.”

Ia terdiam sesaat, seolah menimbang apakah perlu melanjutkan ucapannya.

“Setiap kali aku menutup mata,” lanjut Nalla, “pikiranku selalu kembali pada kejadian-kejadian buruk yang menimpaku.”

Tatapan Nalla perlahan bergeser ke arah meja. Bola-bola logam kecil di atasnya kembali bergerak setelah sebelumnya disentuh Hana.

Tak.

Tak.

Tak.

Benturan kecil bola-bola logam itu terdengar jelas di tengah keheningan ruangan.

“Terakhir kali kita bertemu,” ucap Hana hati-hati, “kamu bilang bahwa sebab selalu melahirkan akibat.”

Nalla tetap menatap bola-bola itu.

“Apa maksud dari kalimat itu?”

Nalla menghela napas panjang. Dadanya naik turun perlahan, seolah ada sesuatu yang terus menekan dari dalam dirinya.

“Dokter…” Suara Nalla terdengar lirih. “Sakitku, kehancuran hidupku, semuanya karena dia. Laki-laki yang seharusnya menjagaku itu pantas mati.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa ragu. Tanpa penyesalan.

Hana tetap diam, membiarkan Nalla melanjutkan ucapannya.

Tatapan Nalla perlahan berubah dingin.

“Bahkan, seharusnya…” Rahangnya menegang. “Aku membuat dia lebih menderita sebelum mati.”

Ruangan mendadak terasa lebih dingin.

“Siapa laki-laki itu, Nalla? Kenapa kamu sangat membencinya?” tanya Hana pelan.

Nalla tersenyum tipis, tetapi senyum itu terasa hambar. Lebih mirip luka daripada kebahagiaan.

“Aku tidak akan membencinya,” ucapnya perlahan, “jika dia bisa menjadi sosok yang benar-benar bisa aku kagumi.”

Tak ada jawaban dari Hana. Ia membiarkan kata-kata Nalla mengendap sejenak di antara mereka.

“Nalla, siapa dia? Bisakah kau memberi tahuku?”

Nalla terdiam. Ia menatap Hana dalam-dalam. Pikirannya berkecamuk, bertarung antara mengungkapkan kebenaran tentang laki-laki itu atau kembali menyimpannya rapat-rapat.

Ada satu kata yang begitu sulit keluar dari bibirnya. Kata yang seharusnya menyebut seseorang yang ia hormati, tetapi justru menjadi sumber luka terdalam dalam hidupnya.

“Ayah… Dia ayah kandungku,” ucap Nalla akhirnya.

Hana memperhatikan jemari Nalla yang mulai saling meremas. Ia menyadari bahwa pembicaraan itu membuat perempuan di hadapannya tampak lebih tegang daripada sebelumnya.

“Ayahmu?” Hana memastikan kembali. “Apa yang ayahmu lakukan padamu?” tanyanya perlahan.

Nalla mengangkat wajah. Helaan napas berat terdengar dari bibirnya.

Tatapan mereka bertemu.

“Dia… dia menjualku.”

Kalimat itu terucap pelan.

Datar. Namun, cukup untuk mengubah suasana ruangan.

Hana mengernyit samar. Ia tidak langsung menanggapi, seolah masih berusaha memahami apa yang baru saja didengarnya.

“Kenapa dia melakukan itu?”

Nalla tidak langsung menjawab. Ia justru kembali menunduk. Pandangannya kosong ke arah lantai, seolah pikirannya telah berjalan jauh ke masa lalu.

“Karena utang,” jawabnya akhirnya.

Lihat selengkapnya