Kupanggil Rumah

Andini Lestari
Chapter #1

Bab Satu

Nania Ananda.

Gadis itu masih menjadi pusat perhatian. Di wajahnya tidak ada ketegangan, tatapan menantang yang dia berikan membuat gadis di hadapannya kurang nyaman. Nania menaikkan alis kemudian tersenyum tipis. Saat lawan bicara mengeluarkan argumen, menyusul sebuah kalimat terlontar dari bibir tipisnya. Sang lawan tidak mampu berkata-kata.

Gadis dengan rok 10 cm di atas mata kaki dan sepatu serta kaos kaki yang warnanya mencolok sedari tadi sedang berusaha membela diri. Baru kelas sebelas selama dua bulan saja sudah belagu seperti ini. Mau bagaimana di kelas dua belas nanti? Nia bergedig jijik.

“Sepatuku beneran dicuci Nia! Besok deh!” Nia tersenyum sinis sambil membuang muka untuk kedua kali. Dia sudah bosan dengan berbagai alasan yang Neli berikan dan janji-janji yang terlantun merdu tapi nyatanya tidak ditepati.

Bagi Nania Ananda, setiap orang yang ketahuan bersalah akan mengeluarkan berbagai macam alasan agar dapat dipercaya. Tapi, sayangnya kesempatan berdalih itu mungkin sudah tidak ada lagi untuk Neli. Gadis itu sudah berbohong nyaris empat kali. Kemarin sore saja Neli mendelik ketika Nia menegurnya di kantin sekolah. Kemudian, malah pura-pura tidak mendengar saat Nia memanggilnya di dekat lapangan basket untuk mengingatkan yang lagi-lagi tentang sepatu dan rok. Dan hari ini, Neli tidak akan mungkin bisa kabur lagi. Apalagi Nia tidak ragu-ragu membawa Nova yang jabatannya sebagai Ketua Umum OSIS.

Nania, dia adalah gadis yang sering menjadi sorotan. Hampir seluruh siswa yang mengetahuinya pasti segan dan hormat padanya. Ekspresi wajahnya nampak datar, dia selalu tampak cuek terhadap setiap orang. Ketegasanan sering lebih dikenal dengan sok mengatur. Prinsip hidup yang terlalu kaku dan kurang disukai siapapun.

Berbeda dengan mereka yang hanya mengamati, Nania di mata orang terdekat justru sebaliknya. Meski air muka yang diberikan sering terlihat tidak peduli, gadis itu selalu ekspresif dan ramah terhadap siapapun. Hal ini membuat dirinya mempunyai karakter istimewa. Sikapnya yang tenang dalam menghadapi masalah membuatnya cukup disegani sekaligus dihindari.

Gadis ini berdecak, anak rambut sisa ikatan cepolnya itu bergoyang ke kanan dan ke kiri seiring dengan gelengannya. Nia menarik napas dengan mata yang mendelik.

“Sekarang logikanya seperti ini Nel, sepatu kamu itu setebal apa, sampai seminggu tidak cukup untuk kering? Perasaan, ini itu bukan musim penghujan.” Nia mengerutkan kening saat jawaban Neli yang malah tidak jelas arahnya. Gadis itu mengelak dan membuat alasan yang aneh dan tidak masuk akal. Saat seorang cowok berjambul muncul dari pintu, Nia beralih berkacak pinggang. “Ini juga, kamu Firas, bukannya pengurus OSIS di kelas ini? Tidak peduli sekali kamu dengan ketertiban sekolah?” tanya Nia saat dengan polosnya Firas berjalan memasuki kelas. Wajah cowok itu tidak berubah, masih dengan tampang tidak berdosa dia duduk di bangku. “Bilangin aja Nia aku males jadi OSIS lagi.”

Lihat selengkapnya