Kupanggil Rumah

Andini Lestari
Chapter #2

Bab Dua

Sejak beberapa minggu lalu kepengurusan OSIS berjalan pincang, Firas yang waktu itu sudah sidang tidak mampu membawa siswa pengganti. “Di kelas ada yang pantas, namanya Dami. Dia pasti mampu, tapi sayangnya dia tidak mau. Katanya akibat tidak mau prestasinya turun lagi,” kata Firas sedikit takut di depan pembina OSIS dan kesiswaan.

Ucapan Firas tidak membantu. MPK tidak bisa menemukan pengganti, anak-anak yang mengikuti LDKS tiga bulan lalu sudah menampakkan ketidakprofesionalitasannya. Sudah mendapat pelatihan dalam kepemimpinan, kelakuan mereka bukannya makin teratur malah makin hancur. Mereka malah semakin berani dengan tingkah yang lebih semena-mena.

Kesiswaan memerintahkan MPK dan pengurus OSIS untuk membujuk Dami, dan di percobaan pertama gagal karena Dami sulit diajak kompromi. Dia malah bertanya, “Kalian bisa tanggung jawab jika prestasi saya hancur dan tidak masuk perguruan tinggi negeri? Ah, jangankan itu, kalian mau bertanggung jawab jika saya tidak tembus perguruan tinggi manapun?” Mau tidak mau, satu persatu yang ditugaskan mengajak Dami akhirnya mundur. Jangankan mempertanggungjawabkan masa depan kuliah orang lain, masa depan diri sendiri saja mereka tidak tahu.

Berita itu sampai pada Nia yang sama sekali tidak tau rencana ini. Gara-gara tidak ikut rapat minggu lalu karena sakit, gadis itu mulai mempertanyakan perannya yang terasa tidak dianggap sama sekali. Dengan kesal, gadis itu merapikan barang barangnya dipojok ruangan OSIS. “Harusnya kalian bilang dong kalau butuh bantuan! Memangnya aku sebagai sekrum udah nggak dianggap lagi?!” Bukannya tidak niat memberi tahu Nia, tapi seluruh pengurus lupa untuk melakukan itu.

Setelah itu Nia mulai bertindak, gadis ini mulai menyuruh Tama, kembaran Tami yang kebetulan sahabat Dami mempertemukan mereka di kedai ice cream yang ada di dekat sekolah. “Pokoknya jangan di area sekolah takut ada yang nguping. Jangan di ruang OSIS, nantinya Dami curiga, bilang aja ada yang mau ketemuan biar Dami penasaran.” Alhasil Nia dan Dami berada di meja yang sama hari ini. Sambil menikmati ice cream green tea yang dingin. “Semoga aja bisa dinginin otak Dami,” batin Nia.

“Ngapain kamu ajak saya ketemu disini?”

Mata Nia melotot, sendok ice cream di tangan yang belum sampai ke mulut berhenti di tengah jalan. Apa salam perkenalan harus sesadis itu?

“Eh maaf, salam kenal. Saya sedang kesal pada pengurus OSIS sekolah ini. Jadi ... kamu mau ngapain?”

Nia menarik nafasnya, belum apa-apa Dami seakan sedang memblokadenya agar tidak membawa pembicaraan ke arah kepengurusan. Kedua tangannya meremas rok lalu gadis ini tersenyum manis. Dia sudah memulai, dia harus menyelesaikan. “Kamu mau nggak bikin kelompok belajar?”

Dami mengerutkan alis sambil memperhatikan Nia lekat-lekat. Tidak kenal, tidak akrab, apalagi tidak berteman, Dami tahu Nia itu sebatas Sekretaris Umum OSIS, itu pun dia dengan dari Tama beberapa saat yang lalu. Tapi tiba-tiba menawarinya membuat kelompok belajar, cewek ini aneh. Dami pikir dia akan memintanya bergabung di kepengurusan, sama seperti siswa-siswi yang lain.

“Oke, mungkin kamu heran dengan ajakanku ini. Begini, aku dengar kamu ini ingin nilai nggak turunkan? Nah gimana kalau kita bikin kelompok belajar? Seru pasti!”

Dami masih memasang wajah bingung sekaligus tak acuhnya. Di pikirnya hanya ada perkiraan mengenai ranking pararel berapa cewek ini sampai berani mengajaknya begitu? Merasa pintar atau cewek ini memang juara umum? Oh! Bisa jadi saja cewek ini ingin PDKT-an mengingat betapa terkenal berita tentang dirinya. “Memangnya harus bareng saya? Nggak ngajak yang lain?”

Terjadi hening beberapa detik. Nia masih memikirkan apa yang harus ia katakan supaya Dami tidak salah paham. “Umh... nggak, ini spesial.”

Mata Dami memicing, dia mulai curiga dengan tatapan Nia yang kini seperti gugup. Dibalik wajah sok tegasnya, gadis ini menyembunyikan sesuatu. “Niat kamu ajak saya apa, sih? Nggak masuk akal juga dengan nggak jelasnya kamu ngajak saya bikin kelompok belajar,” tanyanya penuh selidik. Tangannya bergerak merapikan tas. Terlihat sekali ketidaknyamanannya mengobrol di kedai ice cream berdua bareng perempuan. Jantung Nia sudah deg-degan, dia yakin tidak sampai lima menit Lagi Dami pasti bakalan pamit padanya. “Apa untungnya?”

Diluar dugaan banget! Nampaknya Dami tertarik dengan tawaran itu, pasti Dami  penasaran dengan hasil yang mungkin ia capai akhir semester nanti dengan adanya project yang tidak diduga ini.

“Prestasimu nggak bakal nurun,” jawab Nia yakin.

“Itu saja?” tanya Dami tidak percaya lalu tertawa. Kalau cuma begitu, Dami juga bisa. Konyol sekali cewek ini.

“Walaupun kamu jadi pengurus OSIS sekalipun,” ucap Nia yang membuat Dami menatapnya datar, tawa renyahnya tadi kini sudah hilang dengan ekspresi yang berganti.

Lihat selengkapnya