Kupanggil Rumah

Andini Lestari
Chapter #3

Bab Tiga

Ari Rafsanzani, cowok dengan tubuh kurus dan kulit putih pucat, matanya sedikit sipit yang sering bikin orang mikir dia tidak mengerti bahasa Indonesia. Padahal, cowok ini salah satu penggila dunia sastra Indonesia. dia menyukai segala jenis tulisan, dari mulai sajak, puisi, bahkan novel lama hingga kontemporer.

Setiap jam istirahat dia akan bersembunyi di ruang OSIS, di sudut perpustakaan, atau di kursi dermaga. Setiap harinya sendiri untuk membaca buku atau menemani Nia di depan kursi XI IPA 5.

Kesukaan Ari dimanfaatkan Tami, dia selalu meminta saran dari cowok ini. Seluruh tulisan-tulisan Tami sudah terjamah oleh Ari, walaupun genre yang Tami tulis itu bukan genre yang begitu Ari sukai. Nyatanya meski dia menyukai semuanya, romance adalah pengecualian.

Selain menulis dalam bentuk dokumen di tab atau laptop, Tami juga sering membuat video yang berisi puisi. Video apapun dia buat dengan inspirasi dari pengalaman menyebalkan sampai yang menyenangkan.

“Kayaknya kamu kefokusan sama nulis Tam ... yakin nggak bakalan mengganggu prestasi kamu?” tanya Ari setelah merasa bosan dengan Tami yang meminta pendapat untuk keempat kalinya mengenai teen fiction yang ditulisnya sore itu.

Tami menggeleng dengan yakin, “Mumpung OSIS baru selesai sama program kerja, takut nantinya malah keburu sibuk lagi.”

Ari mengangguk paham dengan jawaban Tami yang masuk akal, lagian ... cowok ini kan sudah mengingatkan, sudah tidak ada tanggung jawab kalau sesuatu ada yang terjadi pada Tami. Bukan siapa-siapanya ini.

***

Hari ini seluruh sekolah ramai dengan berita Nova dan Diana. Tidak hanya di kantin, di kelas, koridor, lapang, bahkan di perpustakaan yang harus menjadi tempat senyap juga malah berubah menjadi sumber keramaian. Begitupun masjid yang tempat ibadah, malah menjadi salah satu sumber tempat gosipan berasal.

Nia merutuk dengan kesal. Kenapa sekolah harus ramai dengan gosip begituan? Masih mending beritanya tentang prestasi, ini malah berita karena percintaan. Pantas sih ramai, Diana yang dominan bendahara umum bisa jadian dengan Nova yang ketua umum itukan kedengaran waw. Cinta bersemi di OSIS, itu yang mereka bilang.

Jangan bilang Nia cemburu, dia hanya kecewa, sedikit. Siapa sih yang tidak suka sama Nova? Senyumnya yang manis itu bikin cewek meleleh, warna kulit yang sawo matang juga jago main gitar akustik, potongan rambut yang tidak pernah gondrong juga menambah pesona. Nova sudah kayak anak Paskibraka! Sayangnya sekarang dia milik Diana, bukan lagi milik Nia.

“Nova, Diana! Nova, Diana! Telingaku sampai berasa pecah dibuatnya. Berita kok mereka terus? Kalau beritanya prestasi internasional nggak masalah deh itu berita nggak ilang-ilang. Tapi ini? Mading aja penuhnya pas ada berita pacaran. Siapa sih anak mading? Kasih tahu deh, mading nggak usah diisi berita begituan, yang bermanfaat aja. Aku aja yang ngerasa anak PIK-R belum deh ngerasa diberitain se-hot itu. Padahal PIK-R kita juara satu di pulau Jawa loh!”

Tami yang sibuk menulis malah membalas dengan gumaman, tampak masa bodoh dengan omelan Nia yang tidak keruan.

Satu hal yang menarik dengan persahabatan Nia dan Tami adalah relasi mereka yang begitu dekat. Nia yang begitu ceria dipertemukan dengan Tami si cewek polos dan pendiam. Hubungan mereka lebih dekat dari sahabat, lebih erat dari saudara, dan lebih akrab dari keluarga. Nia tahu Tami dan Tami tahu Nia. Itu semua sudah seperti irama yang tidak bisa diganti nadanya. Tami selalu menjadi pelarian Nia saat merasa sedih, Tami adalah tempat berbagi Nia saat orang tuanya sibuk di luar kota, Tami adalah bagian dari Nia, begitupun keluarga Tami keluarga Nia juga.

Tapi sayangnya Tami tidak seaktif itu untuk menunjukkan ekspresinya. Tami selalu banyak diam.

“Tam! Respon dong! Kamu itu kan salah satu pengurus OSIS yang bertanggungjawab sama semua yang dipajang di Mading!”

“Respon apa? Sebentar lagi berita itu ilang kok. Lagian kamu kok mempermasahkan banget berita ini? Biasanya kamu masa bodoh sama ginian.” Tami mengangkat kepala. Nia tahu, sahabatnya ini sedang membuat puisi-puisi puitis dan dibuatnya video untuk dimasukkan ke akun sosial medianya, tapi hobinya itu seharusnya tidak membuat Tami melupakan sahabatnya sendiri.

“Ini itu masalahnya almamater! OSIS tempat pacaran? Astaga mau jadi apa negara ini?!”

Lihat selengkapnya