Kupu-Kupu Biru di Punggung Ibu

Sarah lufiana
Chapter #1

Hidup Terus Berjalan Meski Dibalur Bekas Luka

Bagian 1

Hidup Terus Berjalan Meski Dibalur Bekas Luka

🍁🍁🍁


Dua hari lalu, dia menjadi pusat perhatian. Pemain teater dengan bakat alam, dan wajah menawan. Dia tersenyum ketika pujian menerbangkan rasa warasnya, dia tertawa ketika orang-orang melucu di sekitarnya. Dia juga membuat lelucon ringan yang dia tertawai sendiri sampai air mata merembes tanpa aba-aba. Dia menatap dunia seperti humor kemarin sore, yang tidak pernah dia kekalkan sebagai bahagia yang seharusnya. Sebab, dia terlalu pandai berpura-pura. Katanya, dia akan baik-baik saja selama dunia hanya tahu sisi luarnya. Katanya, menjadi baik-baik saja adalah penipuan paling tidak masuk akal yang dilakukan oleh semua orang. Aku baik-baik saja, desahnya dalam-dalam ketika bercermin, dan mendapati tatapan matanya menipu dirinya sendiri.

"Juni," teriak seseorang dari pintu masuk ruang teater ketika seorang laki-laki sedang mamandangi jejak bekas pentasnya. "Lagi apa, sih?"

Laki-laki dengan panggilan Juni itu menoleh ringan, tersenyum tipis dengan gelengan kepala yang menandakan bahwa dia tidak melakukan apa-apa, selain menatap pada memoir dua hari lalu. "Nggak, kok," katanya sembari berjalan menghampiri Arjani—perempuan cantik yang diam-diam memendam kekagumannya. "Kamu sendiri, ada apa di sini?"

Arjani melirik ke kanan lalu ke kiri. Perempuan berambut pendek, dengan senyum merona itu tersenyum canggung. "Nggak ada, sih," katanya. "Aku cuma mau ketemu kamu, mau bilang selamat karena penampilanmu bagus kemarin."

"Terima kasih," jawab Juni lalu keluar, menggiring Arjani untuk meninggalkan ruang teater.

Perempuan yang sudah selesai dengan studi kedokteran itu berjalan di belakang Juni, hanya menatap punggung laki-laki itu. Sementara, Juni tahu betul bahwa Arjani begitu malu-malu, dan dia menyadari bahwa dirinya sendiri yang harusnya malu pada perempuan sesempurna Arjani. Dia menoleh padanya, berusaha membuat Arjani berjalan di sampingnya.

"Kamu punya rencana apa setelah selesai dengan praktikmu?" Juni berusaha tersenyum, meski mata hitamnya berbinar keruh.

"Aku masih perlu ambil residen dan program speasialis," jawab Arjani tersenyum cantik. "Aku berencana mengambil spesialis kejiwaan."

Juni mengangguk ringan, dengan senyum yang tampak tenang. Meski, tatapan matanya keruh, dan pikirannya selalu bercabang, tapi dia selalu tahu bagaimana menyembunyikan dirinya dari jangkauan, dari pertolongan, dari siapa pun.

Lihat selengkapnya