🍁🍁🍁
Jika saja belajar seni tidak memerlukan uang dan tidak menyita waktu, seperti semboyan-semboyan para seniman, Juni pasti sudah mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di Institut Seni Surakarta. Gapura masuknya tampak megah, dengan dominasi warna emas yang berkilau tertimpa cahaya matahari. Laki-laki jangkung itu tersenyum ketika seseorang menghampirinya.
Laki-laki dengan kumis tipis, mahasiswa akhir jurusan seni teater bernama Wasa Nawasena. Dia langsung memeluk Juni alih-alih menyapa seperti kebanyakan laki-laki jika bertemu kawan lamanya.
"Kapan kamu balik ke sini, Sa?" Juni menelisik wajah Wasa setelah melepas pelukan kawannya itu secara spontan. "Katanya casting film di Jakarta?"
Wasa berdecih kesal sambil menggeleng. "Sebelum kamu tampil, lagipula nggak cocok aku sama film percintaan menye-menye," katanya. "Aku akan casting film lain, aku mau sesuatu yang jenius dan nggak pasaran."
"Banyak gaya," gumam Juni sambil tersenyum heran.
"Aku lihat penampilanmu tiga hari lalu di teater arena TBJT," gumam Wasa tanpa basa basi sambil langsung berjalan beriringan dengan Juni ke fakultas seni pertunjukan. "Aku suka peranmu, caramu memainkan emosi di dalam dirimu, rapi dan penuh kehati-hatian. Aktor lain pasti akan menggebu-gebu saat memperlihatkan kemarahan dan kesedihan yang bercampur aduk, tapi kamu justru menatap satu titik sambil menunjukan kerapuhan dari kehilangan, bukannya kesedihan yang terkesan berlebihan. Aku suka itu, memberikan makna kesuraman jiwa manusia. Kamu jenius."
Wasa sibuk membicarakan hal-hal tentang pementasan teater Juni tempo hari, yang membuat Juni mendapat sebuah pengakuan istimewa yang tidak semua orang miliki dari orang-orang di Teater Saloka.
Keduanya menuju ke sebuah ruang besar di ujung fakultas yang ramai. Fakultas Seni Pertunjukan memiliki beberapa jurusan seperti seni karawitan, seni pendalangan, seni tari, etnomusikologi, dan seni teater. Ruangan ramai itu adalah tempat berkumpulnya mahasiswa-mahasiswa akhir jurusan seni teater yang tergabung dalam Teater Saloka.
Juni sendiri anggota tetap Teater Saloka meskipun bukan mahasiswa Institut Seni. Juni pernah menjadi mahasiswa administrasi bisnis jalur beasiswa orang miskin di universitas negeri, tapi dikeluarkan tahun lalu karena tidak bisa mempertahankan nilai. Juni terlambat menyadari bahwa cara berpikirnya dikuasai otak kanan daripada kiri.
Sekarang, dia menjadi bagian pengurus administrasi dan menjadi aktor di Teater Saloka. Pekerjaan yang tidak pernah Juni bayangkan jika saja dia tak bertemu Bimo hari itu. Menjadi pengangguran, dan tidak bisa melanjutkan pendidikan adalah sebuah kegagalan yang tidak Juni sesali. Baginya, hidup tidak ubahnya selembar mata uang, menjadi tidak berarti jika sudah koyak dan menjadi begitu berharga ketika ada perut yang kelaparan.
Bagi Juni, seni tidak terlalu menyita perhatiannya meski dia beberapa kali memainkan peran utama di pementasan Teater Saloka. Bagi Juni, uang yang memadai dan pantas dari setiap penampilannya adalah yang utama. Juni memiliki Mei untuk dijaga, dunia dan hal-hal menyenangkan lainnya tidak bisa mencuri atensinya.
"Anak picisan," hardik Bimo pada seseorang di hadapannya yang tampak sedang menunduk. "Dari atas sampe bawah lho kelihatan picisan, nggak cocok kamu, pulang sana, di sini keras."
"Mas Bimo kenapa?" tanya Juni pada beberapa temannya yang sedang duduk-duduk di depan sambil merokok.