Kupu-Kupu Biru di Punggung Ibu

Sarah lufiana
Chapter #3

Kupu-kupu

Seandainya manusia bisa menukar sedikit saja nasib buruknya. Seandainya manusia bisa menulis takdir sekehendaknya. Juni akan dengan senang hati menggantikan posisi Mei dalam hal-hal yang menyengsarakan hidupnya. Kakak perempuan yang begitu dicintainya melebihi dirinya sendiri.

Saat masih sekolah dasar, saat Juni tak mengerti mengapa Mei begitu berbeda dari kakak teman-temannya yang lain, Juni begitu membenci. Dari jendela mata Juni, Ibu hanya memperhatikan Mei, mengasihi Mei, memberikan seluruh cintanya pada Mei. Juni iri. Ayah tak jauh berbeda, baginya, kelahiran Mei adalah kesalahannya di masa lalu, sehingga memberikan segalanya hanya untuk Mei, bukan Juni, menjadi sebuah pengobat rasa bersalahnya.

Namun, Juni hanya anak laki-laki yang ingin dicintai. Dan Mei yang mencintainya ketika semua orang tidak tahu apa-apa tentangnya. Mei yang datang untuk Juni ketika tidak ada yang mau menggenggam tangannya. Ketika dunia menolak mereka berdua.

"Jun," lirih Mei membuat Juni yang sedang melipat pakaian di ruang tamu tersentak dari lamunan.

Suara Mei berasal dari dapur, perempuan itu lalu berjalan ke arah Juni sambil memegang dua butir telur. "Kakak ... hmm ... ingin memasak ... memasak untukmu, tapi-tapi tidak tahu cara menghidupkan kompor," katanya.

Juni tersenyum ringan lalu menghampiri Mei di ambang dapur. "Biar Juni saja, ya," ucapnya lalu mengambil wajan dan menyalakan kompor. "Kak Mei jangan menyalakan kompor, berbahaya, okey?"

Mei menggeleng sekuat tenaganya, menolak. "Tidak-tidak-tidak, kakak bisa," katanya. "Kakak akan ingat dengan baik ... ingat baik-baik ... cara menggoreng telur ... caranya seperti ... hmm seperti mengingat cara merapikan rambut ... ya rambut ... dan hmm dan ... ya dan memakai baju yang pernah Ibu ajarkan dulu."

Setiap kata Ibu keluar dari mulut Mei, jiwa Juni seperti tersentak sesuatu. Laki-laki itu sudah nyaris melupakan segala hal tentang Ibu, tentang kepergiannya yang nyaris membunuh kewarasan seluruh keluarganya. Bahkan Ayah, telah menjadi seperti orang lain setelah kejadian itu; kematian Ibu.

"Iya, nanti Juni ajari caranya, ya." Juni tersenyum lagi setelah memecahkan telur di wajan. "Sekarang Kak Mei yang melipat baju di ruang tamu, okey?"

Mei mengangguk dengan antusias lalu melangkah ringan ke ruang tamu. Perempuan itu menyalakan televisi dengan tayangan kartun sembari melipat baju-baju persis seperti yang Juni lakukan. Meski menderita autisme, Mei memiliki penerimaan yang baik dan komunikasi dua arah yang jelas. Dia bisa diajari dan bisa melakukan hal-hal yang diajarkan padanya sama persis, dan kadang lebih baik. Mei terlahir berbeda, tapi tak pernah benar-benar berbeda. Dia ingin diperlakukan sama, layaknya manusia lainnya.

Tak lama, Juni datang dengan piring nasi, kecap, dan telur mata sapi. Mei kegirangan melihat makanan kesukaannya itu langsung melahapnya bahkan ketika panas.

"Kak Mei lapar banget, ya? Pelan-pelan saja, okey?" Juni duduk lalu melanjutkan pekerjaannya melipat baju sambil melihat ke televisi, dengan tergesa mematikannya sebelum Mei sempat menyadari. Sebuah tayangan iklan yang Juni hindari, yang memperlihatkan kupu-kupu.

"Kak Mei tidak boleh melihat televisi kalau sedang mengerjakan sesuatu atau sedang makan, okey?" Juni tersenyum ketika Mei mengangguk sembari mengunyah.

Kupu-kupu. Mei tak hanya menanggung autisme, tapi juga trauma yang menyengsarakan. Semua berawal karena kejadian malam itu; kematian Ibu.

Lihat selengkapnya