Lampu-lampu warna-warni berkelap-kelip di sepanjang jalanan kota yang tidak pernah benar-benar tidur. Suara musik berdentum berat, bercampur dengan tawa keras dan obrolan orang-orang yang datang untuk melepas penat atau sekadar mencari kesenangan sesaat. Di antara hiruk-pikuk itu, berjalanlah seorang gadis muda dengan gaun pendek berwarna merah marun yang menyala di bawah sorotan lampu jalan. Rambut hitamnya diurai panjang, sedikit bergoyang mengikuti langkah kakinya yang lambat namun pasti. Wajahnya terlihat cantik, dilapisi riasan tebal yang sengaja ia buat agar terlihat ceria dan berani, meski di balik lapisan bedak dan pemerah pipi itu, matanya menyimpan kelelahan yang mendalam.
Namanya Larasati. Bagi orang-orang yang melihatnya lewat, ia hanyalah satu dari sekian banyak gadis yang bekerja di tempat hiburan malam yang berdiri megah di ujung jalan itu. Di mata tetangga, ia adalah aib lingkungan. Di mata para pelanggan, ia hanyalah hiburan yang bisa dibeli dengan uang. Mereka sering menyebutnya dengan sebutan yang tajam dan menyakitkan: “kupu-kupu malam”. Sebutan yang terdengar indah, namun bagi Larasati, itu adalah istilah yang mengungkungnya dalam sebuah kotak gelap, tempat ia dipandang rendah, disalahartikan, dan jarang sekali dipahami.
Malam itu sama seperti malam-malam sebelumnya. Larasati masuk ke dalam gedung itu, menyapa rekan-rekannya dengan senyum yang sudah menjadi kebiasaan, meski hatinya terasa kosong. Di dalam ruangan yang penuh asap rokok dan aroma minuman keras, ia bergerak di antara meja-meja, melayani tamu yang memanggil. Ada yang memandangnya dengan tatapan serakah, ada yang berbicara dengan nada merendahkan, ada pula yang sekadar menganggapnya tidak ada. Larasati sudah terbiasa. Ia telah belajar untuk menutup telinga dari kata-kata pedas, dan menutup hatinya dari tatapan yang menyakitkan. Ia tersenyum, tertawa, dan bercanda seolah tidak ada beban yang dipikulnya, padahal setiap senyum itu terasa berat untuk dipertahankan.
“Kamu cantik sekali malam ini, Lar,” ujar seorang pria paruh baya yang duduk di salah satu sudut, sambil menyerahkan selembar uang berwarna merah dengan senyum yang tidak sopan.
Larasati mengambil uang itu dengan tangan yang gemetar halus, namun senyumnya tetap terukir manis di bibirnya. “Terima kasih, Pak. Semoga Bapak betah di sini,” jawabnya pelan, lalu bergegas pergi sebelum pria itu bisa berkata atau melakukan hal lain yang tidak pantas. Ia tahu betul posisinya di sini. Ia ada di sini bukan karena ia suka, bukan karena ia ingin hidup mewah atau bersenang-senang, seperti yang sering dituduhkan orang kepadanya. Ia ada di sini karena tidak ada jalan lain yang terbuka lebar di hadapannya.
Di balik pintu tertutup rumah kecil reyot di pinggiran kota, ada satu-satunya alasan mengapa Larasati bertahan menjalani kehidupan yang pahit ini: neneknya, Mbah Siti. Wanita tua itu kini terbaring lemah di atas kasur tipis, menderita sakit paru-paru kronis yang sudah dideritanya bertahun-tahun. Sejak Larasati masih bayi, ibunya telah meninggal dunia, dan ayahnya pergi meninggalkan mereka tanpa pesan, menghilang ditelan kerasnya kehidupan. Hanya tinggal Larasati dan neneknya, berdua saja menghadapi dunia. Dan saat kondisi kesehatan Mbah Siti semakin menurun, saat biaya pengobatan dan obat-obatan semakin mahal, saat tetangga mulai menjauh dan tidak mau peduli, Larasati yang masih remaja itu terpaksa mengambil keputusan berat yang mengubah seluruh jalan hidupnya.