Malam berikutnya, langit di atas kota kembali menyelimuti segalanya dalam gelap, hanya diterangi oleh lampu-lampu streetlight yang berkedip samar dan pendar warna-warni yang memancar dari gedung tempat Larasati bekerja. Udara malam terasa sedikit lebih dingin dari biasanya, menusuk hingga ke tulang, seolah turut merasakan berat beban yang dipikul gadis itu. Seperti rutinitas yang tak pernah berubah, Larasati kembali melangkah masuk ke dalam gedung itu, menyusuri lorong panjang yang berbau campuran parfum mahal, asap rokok, dan minuman keras bau yang sudah sangat dikenalnya, namun tetap membuat hatinya mual dan ingin segera lari sejauh mungkin.
Malam itu suasana di dalam ruangan terasa lebih ramai dari biasanya. Musik bergema lebih keras, tawa dan obrolan orang-orang terdengar memecah keheningan malam. Para pengunjung datang dengan berbagai tujuan: ada yang ingin merayakan sesuatu, ada yang ingin melupakan masalah hidup, ada pula yang memang datang hanya untuk mencari kesenangan sesaat dan hiburan murahan. Larasati bergerak di antara kerumunan itu dengan gerakan yang sudah otomatis. Senyum yang terukir di bibirnya, tatapan matanya yang tampak ceria, dan ucapannya yang ramah semuanya adalah topeng yang ia kenakan rapat-rapat agar tidak ada satu pun orang yang melihat betapa rapuh dan lelahnya ia di dalam.
Ia melayani satu meja ke meja lain, menampung lelucon-lelucon kasar, tatapan yang penuh nafsu, atau sekadar permintaan sederhana untuk menuangkan minuman. Bagi sebagian besar orang di sini, keberadaannya hanyalah pelengkap suasana. Benda yang bisa dibayar, diminta, dan disisihkan sesuka hati. Larasati sudah terbiasa dengan semua itu. Ia belajar untuk tidak memasukkan semua perkataan jahat itu ke dalam hati, meski setiap kalimat pedas tetap meninggalkan goresan luka, meski kecil.
Namun malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuat langkah kaki Larasati terhenti sejenak, dan rasa penasaran mulai menyelinap masuk ke dalam benaknya.
Di sudut ruangan, jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk meja-meja utama, duduklah seorang pemuda. Ia duduk sendirian di kursi yang agak tersembunyi, di bawah sorotan lampu kuning yang remang. Berbeda dengan pengunjung lain yang datang berpasangan atau berkelompok, tertawa keras, atau memanggil-manggil pelayan dengan suara lantang, pemuda itu duduk diam, tenang, dan tampak sangat asyik dengan dunianya sendiri. Ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru dongker yang digulung sebatas siku, terlihat sederhana namun rapi. Di tangannya, tergenggam sebuah buku catatan tebal berkulit cokelat dan sebuah pena. Sesekali ia menulis sesuatu dengan gerakan tangan yang tenang, sesekali ia menghentikan gerakannya, menatap sekeliling ruangan dengan pandangan yang tajam namun lembut, seolah sedang mengamati dan mempelajari setiap orang yang lewat di hadapannya.
Larasati baru pertama kali melihat wajah itu. Ia yakin betul pemuda itu bukan pelanggan tetap. Penampilan dan pembawaannya terlalu berbeda dari kebiasaan orang-orang yang datang ke tempat ini. Tidak ada aroma alkohol yang menyengat dari arahnya, tidak ada tatapan serakah yang biasa ditujukan laki-laki lain kepadanya. Pemuda itu terlihat seperti orang yang tersesat, atau seseorang yang sengaja datang ke tempat asing ini hanya untuk mengamati, bukan untuk bersenang-senang.
Tanpa sadar, Larasati menjadi sering melirik ke arah sudut ruangan itu di sela-sela pekerjaannya. Ada rasa ingin tahu yang besar tumbuh di hatinya. “Siapa dia? Apa yang dia cari di sini? Mengapa dia hanya diam dan menulis?” tanyanya dalam hati. Yang paling membuatnya gelisah adalah, beberapa kali saat ia berpapasan atau berjalan melewati meja-meja dekat situ, ia menangkap tatapan pemuda itu tertuju kepadanya.
Bukan tatapan yang biasa ia terima. Bukan tatapan yang menelanjangi, bukan tatapan yang merendahkan, bukan pula tatapan yang penuh keinginan. Tatapan itu... berbeda. Tatapan yang seolah menembus lapisan riasan tebal di wajah Larasati, menembus gaun berpotongan pendek yang ia kenakan, menembus semua topeng yang ia bangun susah payah. Tatapan itu seolah ingin melihat siapa sosok yang sebenarnya ada di balik semua itu. Seolah pemuda itu bisa melihat kesedihan yang mendalam, kelelahan yang tersembunyi, dan ketulusan hati yang berjuang bertahan di tengah kegelapan.
Setiap kali mata mereka bertemu, Larasati akan segera memalingkan wajah, jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia merasa seperti terbaca, seperti rahasia terbesarnya yang ia sembunyikan rapat-rapat kini terlihat jelas oleh orang asing itu. Ada rasa tidak nyaman, namun anehnya, ada juga rasa aman yang samar.
Waktu terus berlalu, larut malam semakin dalam. Pengunjung mulai berkurang, sebagian besar sudah pulang atau tertidur mabuk di meja mereka. Larasati berdiri di dekat bar, menyeka keringat dingin di keningnya, merasa sangat lelah. Ia berencana untuk segera menyelesaikan sisa tugasnya dan pulang menemani neneknya.
Namun, tiba-tiba ia mendengar suara lembut memanggil namanya, atau lebih tepatnya, nama panggilan yang biasa dipakai orang-orang di sini.