Hujan gerimis yang turun sejak dini hari belum juga berhenti saat Larasati sampai di depan rumahnya. Rumah kecil berdinding papan itu tampak semakin tua dan rapuh saat dibasahi air hujan, seolah-olah setiap tetesnya mengingatkan pada kerasnya hidup yang harus dilalui penghuninya. Atap yang bocor di beberapa sudut, dinding yang mulai lapuk dimakan usia, dan lantai tanah yang kini berubah menjadi becek semua itu adalah saksi bisu perjalanan panjang hidup Larasati dan neneknya.
Dengan langkah pelan agar tidak menimbulkan suara, Larasati membuka pintu kayu yang berderit panjang. Di dalam, suasana sangat hening, hanya terdengar suara rintik hujan yang menimpa atap seng. Cahaya remang dari lampu minyak yang menyala redup di sudut ruangan menerangi seisi rumah yang berperabot sangat sederhana. Tidak ada kursi empuk, tidak ada lemari besar, hanya ada sebuah tempat tidur kayu tua, satu meja panjang yang berfungsi sebagai tempat makan dan memasak, serta tumpukan kain bekas yang dijadikan pembatas ruangan.
Larasati meletakkan tas kecilnya di sudut ruangan, lalu segera berjalan mendekati tempat tidur di mana neneknya, Mbah Siti, terbaring. Napas wanita tua itu terdengar berat dan pendek, ciri khas dari penyakit paru-paru yang dideritanya bertahun-tahun. Wajahnya tampak semakin pucat dan keriput, namun saat Larasati menyentuh punggung tangan keriput itu, ia merasakan kehangatan yang selalu membuatnya merasa aman, kehangatan yang tidak pernah ia temukan di tempat lain, apalagi di tempat ia bekerja.
“Laras pulang, Nek,” bisiknya pelan, sambil membetulkan selimut tipis yang menutupi tubuh kurus neneknya. “Maaf kalau pulang agak larut. Hujan tadi deras sekali.”
Mbah Siti hanya bergerak sedikit, matanya tetap terpejam, namun bibirnya tersenyum tipis seolah ia sadar keberadaan cucunya ada di dekatnya. Larasati duduk diam di tepi ranjang, menatap wajah neneknya lama sekali. Di sini, di dalam rumah kecil ini, di balik dinding papan yang tipis ini, tersimpan seluruh rahasia, luka, dan alasan mengapa ia harus menjadi apa adanya sekarang. Di sini, tidak ada sebutan “kupu-kupu malam”, tidak ada tatapan menghakimi, tidak ada pandangan rendah. Di sini, ia hanyalah cucu kesayangan yang berbakti, dan satu-satunya harapan bagi neneknya.
Perlahan-lahan, ingatan Larasati melayang kembali ke masa lalu, ke masa di mana ia masih sangat kecil, saat dunia terasa jauh lebih sederhana namun justru penuh dengan kehilangan. Ia masih ingat samar-samar sosok ibunya. Wanita yang cantik dan lembut, yang selalu menyanyikan lagu pengantar tidur dengan suara merdu. Namun, ingatan itu terputus saat usianya baru menginjak satu tahun. Ibunya meninggal dunia karena sakit yang tidak tertangani, meninggalkannya bersama ayahnya yang masih muda, bingung, dan belum siap menanggung beban hidup sendirian.
Larasati tidak pernah benar-benar mengenal sosok ayahnya dengan baik. Yang ia ingat hanyalah bayangan seorang laki-laki yang sering pulang larut malam, wajahnya selalu terlihat lelah dan penuh kekhawatiran. Ekonomi keluarga semakin sulit sejak kepergian ibunya. Ayahnya harus bekerja banting tulang sendirian untuk membiayai hidup dan merawat anak kecil. Beban itu ternyata terlalu berat untuk dipikulnya seorang diri.
Suatu pagi yang dingin, saat Larasati berusia empat tahun, ia bangun dan tidak menemukan ayahnya di rumah. Ia menangis, mencari ke sana ke mari, namun sosok itu sudah hilang. Hilang tanpa pesan, hilang tanpa barang bawaan yang tertinggal, seolah ditelan bumi. Belakangan, dari cerita tetangga dan neneknya, Larasati tahu bahwa ayahnya pergi merantau, katanya ingin mencari pekerjaan yang lebih baik dan mengirim uang. Namun hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, tidak ada kabar yang datang, tidak ada uang yang dikirim. Sosok itu lenyap selamanya, meninggalkan jejak luka yang dalam di hati gadis kecil itu.