Seminggu berlalu dengan lambat, membawa hari-hari yang terasa sama saja: bangun saat matahari sudah tinggi, merawat nenek, menyiapkan keperluan rumah, lalu bersiap diri kembali menyongsong malam yang penuh kepalsuan. Bagi Larasati, waktu seolah berjalan di tempat. Namun, ada satu hal yang berubah sejak pertemuan itu. Di setiap detik kesepiannya, di sela-sela pekerjaannya, atau saat ia menatap langit malam yang gelap, bayangan sosok pemuda bernama Arya itu selalu hadir melintas di benaknya. Tatapannya yang tenang, suaranya yang lembut, dan kata-katanya yang penuh makna itu kini menjadi kenangan yang sering ia putar ulang dalam ingatan, seperti lagu lama yang menenangkan hati.
Malam itu, langit bersih tanpa awan, membiarkan sinar bulan bersinar terang membasahi kota. Udara terasa hangat, namun di dalam gedung tempat Larasati bekerja, suasana terasa lebih pengap dan bising dari biasanya. Larasati bergerak di antara meja-meja dengan kebiasaan lamanya: senyum terukir manis di bibir, namun pikirannya melayang ke mana-mana. Jujur saja, malam ini ia berharap bisa melihat kembali sosok itu. Ia berharap Arya datang lagi, duduk di sudut ruangan itu, dan mengamati orang-orang sambil menulis di bukunya. Namun hingga hampir tengah malam, sosok itu tak juga muncul.
“Mungkin dia hanya kebetulan lewat. Mungkin dia tidak akan pernah datang lagi. Mengapa aku berharap begitu?” batin Larasati menegur dirinya sendiri. Ia merasa bodoh dan berandai-andai berlebihan. Bagaimana mungkin seseorang yang tampak begitu berbeda, begitu bersih, dan begitu tenang mau kembali ke tempat seperti ini hanya untuk melihatnya? Larasati menghela napas panjang, mencoba membuang rasa kecewa yang tiba-tiba menyeruak di dada. Ia kembali fokus pada pekerjaannya, melayani tamu yang berisik dan kadang kasar, berusaha menutup rapat-rapat perasaannya yang mulai kacau.
Saat jam dinding besar di ruangan itu berdentang pukul dua belas malam, sebagian besar pengunjung mulai berkurang. Musik diperkecil volumenya, dan suasana perlahan menjadi lebih tenang. Larasati berdiri bersandar di dinding dekat panggung kecil, memijat pelipisnya yang terasa pening. Ia sudah berniat untuk pamit pulang lebih awal malam itu, karena kondisinya memang sedang tidak terlalu fit.
Namun, saat ia hendak melangkah menuju ruang ganti untuk membereskan barang-barangnya, matanya menangkap sosok yang baru saja melangkah masuk melalui pintu kaca putar itu. Jantungnya seolah berhenti berdetak sejenak, lalu berdegup jauh lebih cepat dari biasanya.
Itu dia. Arya.
Pemuda itu mengenakan kemeja berwarna abu-abu muda malam ini, tetap sederhana namun rapi, dengan tas selempang kecil di bahunya dan buku catatan tebal yang selalu ia bawa di tangan kirinya. Ia berdiri sejenak di ambang pintu, mengamati seisi ruangan dengan pandangan tenangnya yang khas, sebelum akhirnya melangkah masuk dan berjalan menuju sudut favoritnya tempat yang sama persis seperti minggu lalu.
Larasati terpaku di tempatnya, ragu apakah harus mendekat atau pura-pura tidak melihat. Ada rasa gembira yang meluap, namun disertai rasa malu dan canggung yang besar. Ia melihat Arya duduk, memesan satu gelas minuman ringan, lalu segera membuka bukunya dan mulai menulis. Ia tidak memanggil siapa pun, tidak melihat ke arah mana pun selain ke arah tulisannya dan sekilas pandang ke sekeliling ruangan.
Setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya, Larasati perlahan melangkah mendekat. Ia mengatur napasnya, berusaha menata kembali senyumnya agar terlihat wajar, meski di dalam hatinya ia merasa gugup bukan main. Saat ia sampai di dekat meja Arya, pemuda itu mengangkat wajahnya. Senyum tipis yang sama, senyum yang terasa mengerti dan ramah, kembali terukir di bibirnya.
“Selamat malam, Mas,” sapa Larasati pelan, suaranya terdengar sedikit lebih lembut dari biasanya. “Mas Arya ya? Senang sekali bisa bertemu lagi.”
Arya meletakkan penanya perlahan di atas buku, menatap Larasati lekat-lekat, dari ujung rambut hingga ke mata. Tatapan itu membuat Larasati merasa telanjang, namun bukan dalam arti yang buruk. Ia merasa dilihat, benar-benar dilihat, tanpa disalahartikan.
“Selamat malam, Mbak...” Arya terdiam sejenak, seolah berusaha mengingat sesuatu. “Maaf, waktu itu saya lupa menanyakan nama kamu yang sebenarnya. Di sini mereka memanggilmu dengan nama lain, tapi saya yakin itu bukan nama aslimu.”
Pipi Larasati memerah karena terkejut dan tersanjung. Tidak ada satu pun orang di tempat ini yang peduli dengan nama aslinya. Bagi mereka, ia hanyalah panggilan, panggilan yang sama rendahnya dengan pekerjaannya. Mendengar pertanyaan itu, rasa sepi yang lama mendiami hatinya terasa sedikit berkurang.