Kupu-Kupu Di Bawah Lampu Kota

M Helmi Akhdan
Chapter #5

Bisikan Tetangga

Pagi baru saja menyingsing, menyelinap masuk melalui celah-celah dinding papan rumah kecil itu. Sinar matahari pagi yang hangat seolah berusaha menembus ke dalam, ingin memberikan sedikit kehangatan bagi penghuni rumah yang selama ini lebih banyak hidup dalam bayang-bayang gelap. Larasati terbangun dari tidur pendeknya, tubuhnya terasa pegal dan lelah, namun hatinya terasa berbeda. Sejak percakapan malam itu dengan Arya, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Rasanya ada seberkas cahaya kecil yang bersinar di sudut hatinya, membuat ia merasa sedikit lebih kuat, sedikit lebih berani menghadapi dunia.

Ia bangkit perlahan, membetulkan selimut yang menutupi tubuh neneknya yang masih terlelap. Napas Mbah Siti terdengar lebih teratur pagi ini, sebuah hal kecil yang sudah cukup membuat Larasati bersyukur sepenuh hati. Ia segera bergegas keluar rumah, membawa ember dan perlengkapan mencuci pakaian milik tetangga yang menjadi salah satu tambahan pekerjaannya di siang hari. Udara pagi yang sejuk menyapa wajahnya, namun kesejukan itu tidak berlangsung lama.

Baru saja ia melangkah beberapa meter dari halaman rumahnya, suara-suara bisikan yang sudah sangat dikenalnya mulai terdengar. Suara-suara halus yang sengaja dibuat terdengar, seolah ingin memastikan bahwa orang yang dibicarakan bisa mendengarnya dengan jelas.

“Itu dia anak itu... Larasati. Masih pagi-pagi sekali sudah keluar rumah. Padahal kan kerjanya baru mulai kalau malam datang,” ujar seorang wanita paruh baya yang sedang menyapu halaman, suaranya dikeraskan sedikit agar sampai ke telinga Larasati.

Wanita lain yang berdiri di dekatnya, tetangga yang tinggal dua rumah dari sana, segera menyahut sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan tatapan menghina. “Iya, ya. Sungguh nasib neneknya itu, sudah tua, sakit-sakitan, eh malah diasuh cucu yang kelakuannya begitu. Aib kampung kita rasanya punya tetangga seperti dia. Pulang pagi, pergi malam... apa yang dia lakukan di luar sana, kita semua tahu lah.”

Kata-kata itu menusuk tajam, persis seperti jarum yang ditusukkan ke dalam daging. Larasati melangkah terus, kepalanya ia tundukkan dalam-dalam, berusaha berpura-pura tidak mendengar, berusaha menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya. Sudah bertahun-tahun ia mendengar kata-kata serupa, namun rasanya tidak pernah menjadi biasa. Setiap bisikan, setiap tatapan sinis, setiap gumaman penghinaan, semuanya terasa baru dan menyakitkan setiap kali ia mendengarnya.

Mereka hanya melihat apa yang terlihat dari luar. Mereka melihat Larasati bergaun indah dan pulang larut malam, lalu langsung menyimpulkan segala hal buruk. Mereka menyebutnya gadis murah, wanita yang tidak tahu malu, manusia yang menjual harga dirinya demi kemewahan dan kesenangan. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang mau bertanya, tidak ada satu pun yang mau tahu alasan di balik semua itu. Tidak ada yang tahu bahwa uang yang didapat Larasati dengan susah payah dan air mata itu, seluruhnya habis untuk membeli obat-obatan, susu, dan makanan bergizi bagi neneknya yang terbaring sakit. Tidak ada yang tahu bahwa Larasati sendiri sering kali makan seadanya, bahkan kadang tidak makan sama sekali, demi menyisakan uang itu untuk orang yang dicintainya.

“Dih, lihat tuh jalannya menunduk terus. Pasti malu kan merasa bersalah,” suara wanita pertama itu kembali terdengar, kali ini disertai tawa kecil yang terdengar sangat mengejek. “Sudah, biarkan saja. Orang seperti itu, biarpun diberi tahu atau dinasihati, tidak akan berubah juga. Dasar memang sudah jalannya hidup seperti itu, sama seperti ayahnya yang pengecut, pergi begitu saja meninggalkan tanggung jawab.”

Kalimat terakhir itu benar-benar menghancurkan pertahanan diri Larasati. Menghina dirinya mungkin sudah biasa, tapi melibatkan ayahnya yang hilang dan menyakiti nama baik keluarganya adalah hal yang paling dalam dan menyakitkan baginya. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini menggenang di pelupuk matanya. Tangan yang memegang ember itu menggigil hebat. Ia ingin sekali berbalik, berteriak, dan menjelaskan semuanya. Ia ingin bercerita bahwa ia bukan wanita buruk yang mereka bayangkan. Ia ingin memberitahu bahwa apa yang ia lakukan adalah bentuk kasih sayang dan pengorbanan terbesar yang bisa ia berikan.

Namun ia tahu, berdebat dengan mereka hanya akan membuang tenaga. Pandangan mereka sudah tertutup rapat oleh prasangka dan penilaian sepihak. Kata-kata seorang gadis miskin dan pekerja malam tidak akan pernah dianggap benar atau berharga di mata mereka.

Dengan sisa kekuatan yang ada, Larasati terus berjalan menuju sungai kecil di ujung kampung itu. Sesampainya di sana, ia meletakkan embernya dengan kasar ke tanah, lalu duduk di pinggir sungai yang airnya mengalir tenang. Di sana, jauh dari pandangan dan suara tetangga, ia akhirnya membiarkan air matanya jatuh deras. Ia menangis sejadi-jadinya, meluapkan segala rasa sakit, kecewa, dan kesepian yang membelenggu hatinya.

“Mengapa mereka begitu jahat? Mengapa mereka tidak mau mengerti? Apakah salah aku lahir miskin? Apakah salah aku ingin menyelamatkan nyawa nenekku?” teriaknya dalam hati, sambil memukul-mukul pelan dadanya yang terasa sesak sekali.

Lihat selengkapnya