Sinar matahari pagi yang masuk melalui celah dinding papan itu biasanya menjadi tanda dimulainya hari baru, harapan baru, dan kekuatan baru bagi Larasati. Namun pagi itu, cahaya matahari yang sama terasa menyakitkan, seolah menyoroti betapa sempit, sederhana, dan miskinnya kehidupan yang mereka jalani. Di sudut ruangan rumah kecil itu, di atas meja kayu yang sudah lapuk dimakan usia, tergeletak tumpukan kertas dan nota yang semakin hari semakin meninggi. Itulah musuh sesungguhnya yang setiap hari mengintai Larasati: tagihan-tagihan yang tak kunjung habis, biaya yang terus bertambah, dan kebutuhan hidup yang seolah tak ada ujungnya.
Larasati duduk di tepi meja itu, tangannya gemetar saat ia menghitung kembali uang hasil kerjanya selama sebulan terakhir. Uang itu ia tumpuk rapi, dipisahkan per lembar, namun jumlahnya terasa sangat sedikit jika dibandingkan dengan deretan angka yang tertulis di atas kertas-kertas tagihan itu. Di sebelahnya, tergeletak resep obat-obatan untuk Mbah Siti yang sudah harus diperbarui, sementara di sudut lain ada nota pembelian beras dan kebutuhan dapur yang belum dibayar kepada pemilik warung di ujung jalan.
Ia menghela napas panjang, rasa sesak kembali menjalar di dadanya. Sejak kondisi kesehatan neneknya makin menurun, biaya hidup mereka meningkat drastis. Dulu, obat-obatan biasa saja mungkin sudah cukup, namun kini dokter meresepkan jenis obat yang lebih mahal, susu khusus, dan makanan tambahan agar kondisi tubuh neneknya tidak makin lemah. Belum lagi biaya periksa ke puskesmas yang harus dilakukan rutin setiap minggu. Penghasilan Larasati, yang dulu rasanya cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, kini terasa seperti setetes air di tengah lautan kebutuhan yang luas.
“Masih kurang banyak sekali...” gumam Larasati pelan, matanya berkaca-kaca menatap tumpukan uang di depannya. “Kalau uang ini dipakai untuk beli obat, berarti kita tidak punya uang untuk makan. Tapi kalau disimpan untuk makan, Nenek tidak bisa minum obat. Apa yang harus Laras lakukan, Tuhan...”
Pikirannya berputar kacau. Ia sudah bekerja sekeras tenaganya, menerima segala lelah dan penghinaan, pulang pagi dan berangkat malam, namun seolah-olah ia berlari di tempat. Semua uang yang ia dapatkan langsung habis, seolah hilang ditelan bumi, tidak ada sisanya sedikit pun untuk ditabung atau sekadar untuk bersantai sejenak. Ia merasa seperti kincir air yang terus berputar, bekerja tanpa henti, namun tidak pernah sampai ke tujuan.
Dari arah tempat tidur, terdengar suara batuk yang panjang dan berat. Suara itu seolah merobek hati Larasati setiap kali mendengarnya. Ia segera bergegas mendekat, melupakan sejenak masalah keuangan yang membebani pikirannya. Mbah Siti terbangun dengan wajah yang jauh lebih pucat dari biasanya, keringat dingin membasahi keningnya yang keriput. Napasnya terdengar pendek dan berat, berjuang keras untuk bisa masuk dan keluar dari paru-parunya yang rusak.
“Nek... sabar ya, Nek. Laras ada di sini,” ujar Larasati lembut, mengusap punggung neneknya perlahan, berusaha membantu agar napas wanita tua itu sedikit lebih lega.
Mbah Siti membuka matanya perlahan, menatap cucunya dengan pandangan yang penuh rasa bersalah dan sedih. Ia tahu betul apa yang sedang terjadi. Ia tahu betapa berat beban yang dipikul gadis muda ini semata-mata karena dirinya.
“Laras...” suaranya terdengar sangat lemah dan parau. “Maafkan Nenek ya... Maafkan Nenek yang sudah menjadi beban berat bagimu. Kalau Nenek tidak sakit begini... pasti kamu tidak perlu susah payah seperti ini. Pasti kamu bisa hidup tenang, bisa sekolah, bisa punya masa depan yang cerah...”