Kupu-Kupu Di Bawah Lampu Kota

M Helmi Akhdan
Chapter #7

Pertemuan Kembali

Malam semakin larut, udara di dalam ruangan itu semakin pengap dan berat, seolah ikut menekan dada Larasati yang sudah terasa sesak sejak sore tadi. Tubuhnya terasa sangat lelah, setiap gerakan terasa berat seolah ada timbunan batu yang menggelayut di setiap sendinya. Ia sudah bekerja melewati batas kemampuannya, melayani tamu dari satu meja ke meja lain, memaksakan senyum, menahan rasa sakit dan mual, semata-mata demi mengumpulkan uang lebih banyak lagi. Di dalam saku gaunnya, uang kertas yang terkumpul sudah cukup tebal, namun rasanya masih jauh dari cukup untuk melunasi semua tagihan dan memenuhi kebutuhan obat neneknya yang semakin mendesak.

Larasati berdiri bersandar di tiang penyangga dekat panggung kecil, matanya memandang kosong ke arah pintu masuk yang kaca. Sudah dua malam berturut-turut ia tidak melihat sosok itu. Arya tidak datang. Entah mengapa, ketidakhadiran pemuda itu terasa seperti kehilangan satu-satunya penawar hati yang ia miliki. Di tengah dunia yang penuh kepalsuan dan penghakiman ini, Arya adalah satu-satunya titik terang, satu-satunya orang yang melihatnya sebagai manusia biasa, bukan sekadar "hiburan" atau "aib". Kehadirannya saja sudah cukup memberi kekuatan, apalagi kata-katanya yang selalu menyejukkan.

“Mungkin dia memang hanya kebetulan lewat. Mungkin dia sudah bosan. Mengapa aku terlalu berharap pada orang asing?” batin Larasati berbicara keras pada dirinya sendiri, berusaha mematikan rasa kecewa yang mulai menyelinap masuk. Ia mengusap peluh dingin di keningnya, berniat kembali bergerak melayani tamu yang memanggil dari sudut ruangan.

Namun, saat ia baru saja hendak melangkahkan kaki, pintu kaca putar itu berputar perlahan, dan sesosok tubuh melangkah masuk. Jantung Larasati seolah berhenti berdetak sejenak, lalu berdegup kencang tak beraturan. Di sana, berdiri dengan tenang dan pembawaan yang sederhana namun berwibawa, adalah Arya.

Pemuda itu tampak sedikit berbeda malam ini. Ia mengenakan kemeja panjang berwarna biru tua yang rapi, dan di tangannya kini terlihat membawa dua buah kantong kertas berwarna cokelat, selain tas dan buku catatan kesayangannya. Ia berdiri sejenak di ambang pintu, matanya segera menyapu seisi ruangan dengan pandangan tajam namun lembut, hingga akhirnya tatapan itu berlabuh tepat di wajah Larasati. Senyum tipis yang khas itu kembali terukir di bibirnya, seolah memberi salam diam yang hanya mereka berdua pahami.

Arya melangkah masuk, berjalan menuju sudut favoritnya seperti biasa, namun kali ini ia tidak langsung duduk. Ia meletakkan barang-barang bawaannya di meja, lalu menatap ke arah Larasati dan memberi isyarat halus agar gadis itu mendekat.

Dengan hati yang berdebar kencang dan rasa gembira yang tak terlukiskan, Larasati berjalan mendekat. Segala rasa lelah dan berat di pundaknya seolah hilang seketika, tergantikan oleh rasa damai yang aneh namun nyata. Saat ia sampai di dekat meja itu, Arya sudah berdiri tegak, menatapnya lekat-lekat. Kali ini, tatapannya bukan lagi sekadar rasa ingin tahu atau pengamatan, melainkan tatapan yang penuh perhatian dan kekhawatiran yang tulus.

“Selamat malam, Laras,” sapa Arya lembut, suaranya rendah agar tidak terdengar orang lain. “Maaf baru bisa datang lagi. Ada urusan yang harus saya selesaikan di luar kota dua hari ini.”

“Selamat malam, Mas Arya,” jawab Larasati, senyum bahagia tak sengaja merekah di bibirnya. “Tidak apa-apa. Mas Arya mau pesan minuman seperti biasa?”

Arya menggeleng pelan, lalu menarik kursi di hadapannya sedikit maju, memberi isyarat agar Larasati duduk sebentar. “Tidak perlu. Saya sudah minta izin ke pemilik tempat ini supaya kamu boleh duduk sebentar dengan saya. Ada yang ingin saya bicarakan, dan ada sesuatu yang ingin saya berikan.”

Larasati duduk dengan ragu, tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Ia menunduk sedikit, merasa canggung namun juga penasaran. “Ada apa, Mas? Ada hal penting ya?”

Arya mengambil salah satu kantong kertas cokelat yang ia bawa tadi, lalu menyodorkannya ke arah Larasati. “Ini... untukmu. Dan untuk Nenekmu.”

Lihat selengkapnya