Kupu-Kupu Di Bawah Lampu Kota

M Helmi Akhdan
Chapter #8

Mimpi yang Terkunci

Malam semakin larut, keheningan menyelimuti rumah kayu kecil itu. Hanya terdengar suara napas teratur Mbah Siti yang terlelap nyenyak, didukung oleh obat-obatan dan makanan bergizi yang dibawa Larasati tadi malam pemberian Arya. Di sudut ruangan, dekat jendela yang terbuka sedikit, Larasati duduk bersila di atas tikar anyaman, menatap ke luar ke arah langit malam yang bertabur bintang. Di pangkuannya, tergeletak sebuah benda tua yang dibungkus kain lusuh, benda yang sudah lama ia simpan, benda yang menyimpan seluruh kenangan dan mimpi-mimpinya yang dulu begitu indah dan tinggi.

Dengan tangan yang bergetar halus, penuh rasa hormat dan rindu, Larasati membuka pembungkus kain itu perlahan. Terlihatlah sebuah buku tulis tebal bersampul karton keras yang warnanya sudah mulai pudar dimakan usia. Di sampul depannya, tertulis rapi dengan tulisan tangan anak-anak: "Cita-citaku, Larasati". Di samping tulisan itu, tergambar coretan sederhana berwarna-warni: seorang gadis memakai baju putih, memegang buku, dan tersenyum di depan papan tulis.

Larasati mengusap permukaan buku itu dengan ujung jarinya, matanya kembali berkaca-kaca. Buku ini adalah satu-satunya peninggalan masa kecilnya yang masih tersisa, satu-satunya saksi bisu tentang siapa dirinya yang dulu, sebelum kerasnya kehidupan mengubah segalanya.

Perlahan-lahan, ingatannya melayang kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu. Saat itu, ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Tubuhnya kecil, rambutnya dikepang dua, dan matanya selalu berbinar penuh semangat setiap kali masuk ke gerbang sekolah. Dulu, Larasati dikenal sebagai anak yang paling cerdas, paling rajin, dan paling berprestasi di kelasnya. Meski hidup miskin, meski sering kali datang ke sekolah dengan pakaian yang sudah bertambal dan sepatu yang sudah ketinggalan jari, semangat belajarnya tidak pernah surut. Ia selalu menjadi juara kelas, selalu dipuji guru, dan selalu diharapkan menjadi kebanggaan bagi neneknya.

Di dalam buku tebal ini, ia pernah menuliskan semua cita-citanya. Halaman demi halaman penuh dengan tulisan rapi, coretan gambar, dan catatan-catatan kecil tentang apa yang ingin ia capai saat dewasa nanti.

"Saya ingin menjadi guru," tulisnya di halaman pertama, dengan tinta biru yang kini mulai memudar. "Saya ingin mengajar anak-anak miskin seperti saya. Saya ingin memberi mereka ilmu supaya mereka bisa sukses dan tidak susah seperti orang tua mereka. Saya ingin sekolah setinggi-tingginya, sampai ke perguruan tinggi. Saya ingin membuat Nenek bangga, saya ingin membelikan Nenek rumah yang besar, kasur yang empuk, dan makanan yang enak-enak."

Membaca kalimat itu kembali sekarang, air mata Larasati jatuh membasahi kertas halaman buku itu. Dulu, impian itu terasa begitu dekat, begitu mungkin diwujudkan. Dulu, ia percaya sepenuh hati bahwa dengan belajar yang rajin, ia bisa mengubah nasibnya. Dulu, ia pikir kemiskinan hanyalah ujian sementara yang akan berlalu jika ia berusaha keras.

Namun kenyataan pahit datang menghantamnya saat ia berusia enam belas tahun, saat penyakit neneknya kian parah dan uang benar-benar tidak ada. Di ambang pintu gerbang sekolah menengah pertama, dengan seragam yang masih baru dan tas punggung yang penuh buku, Larasati harus berhenti. Ia harus memilih antara melanjutkan sekolah demi masa depannya, atau bekerja demi menyelamatkan nyawa satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Pilihannya sudah jelas, dan tidak pernah ia sesali. Namun di lubuk hati yang paling dalam, jauh di balik rasa syukur dan pengorbanan itu, ada rasa rindu yang mendalam. Rindu akan bangku sekolah, rindu akan bau buku baru, rindu akan suara guru, rindu akan masa muda yang bebas dan ceria.

Lihat selengkapnya