Malam itu, suasana di dalam gedung hiburan tempat Larasati bekerja terasa lebih riuh dan panas dari biasanya. Udara dipenuhi asap rokok yang mengepul tebal, bercampur aroma alkohol yang menyengat hingga membuat siapa saja yang menghirupnya merasa pusing. Musik bergema keras, beradu dengan suara tawa keras, teriakan, dan obrolan-obrolan yang penuh makna ganda. Di sudut ruangan yang agak gelap, Larasati berdiri diam, memegang nampan berisi gelas-gelas minuman, matanya sesekali melirik ke arah pintu masuk dengan rasa berharap.
Sejak kebaikan besar yang diberikan Arya beberapa hari lalu, hati Larasati terasa jauh lebih ringan. Kondisi neneknya perlahan membaik berkat obat-obatan yang tepat, tagihan-tagihan yang menumpuk sudah terbayar lunas, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Larasati bisa bernapas lega tanpa rasa cemas yang menggelayut terus-menerus. Kehadiran Arya dan kebaikannya itu menjadi kekuatan terbesar baginya, namun di sisi lain, hal itu juga menumbuhkan rasa takut baru di benaknya. Ia takut kebaikan itu berhenti di tengah jalan, ia takut Arya bosan, dan ia takut... pandangan orang lain.
Dan kekhawatiran terakhir itu ternyata bukan sekadar rasa berlebihan. Malam itu, saat jam dinding baru saja berdentang pukul sebelas, Arya melangkah masuk seperti biasa. Ia mengenakan kemeja sederhana, membawa buku catatan kesayangannya, dan berjalan dengan tenang menuju kursi langganannya. Namun malam itu, kehadirannya tidak lagi luput dari perhatian banyak orang. Beberapa rekan kerja Larasati yang lain mulai berbisik-bisik sambil melirik ke arah Arya, lalu ke arah Larasati. Sejak Arya mulai sering datang, sejak Arya mulai terlihat berbicara lama dan dekat dengan Larasati, pandangan mata rekan-rekannya mulai berubah. Ada rasa penasaran, ada rasa iri, dan ada juga rasa menghina yang terselip.
“Lihat tuh, lagi-lagi datang buat dia,” bisik Sari, salah satu rekan kerja yang sering kali bersikap dingin pada Larasati, sambil menyenggol bahu temannya di sebelah. “Pasti orang kaya itu tertarik ya. Dasar memang pandai saja caranya merayu. Padahal kan sama saja pekerjaannya, eh kok dia dapat yang begituan.”
Suara bisikan itu cukup keras untuk terdengar oleh Larasati yang sedang lewat di dekat situ. Hati Larasati mencelos. Ia ingin sekali berteriak menjelaskan bahwa Arya bukan seperti yang mereka bayangkan. Bahwa Arya bukan tamu yang datang untuk bersenang-senang atau membeli dirinya. Bahwa Arya adalah orang yang mengerti, orang yang peduli, orang yang melihatnya sebagai manusia. Tapi ia tahu, kata-katanya tidak akan ada gunanya. Di tempat seperti ini, semua hal baik pasti akan ditafsirkan dengan buruk. Semua kebaikan pasti dianggap ada maunya.
Larasati menarik napas panjang, mencoba mengabaikan semuanya, lalu berjalan menghampiri meja Arya seperti biasa. Senyum tulus terukir di bibirnya saat bertemu dengan tatapan tenang pemuda itu. Baginya, di tengah segala hiruk-pikuk dan kepalsuan ini, Arya adalah satu-satunya hal yang nyata dan jujur.
“Selamat malam, Mas Arya. Sudah lama menunggu?” sapa Larasati pelan, sambil meletakkan minuman pesanan biasa.
“Selamat malam, Laras. Tidak, baru saja sampai. Bagaimana kabar Nenekmu? Kondisinya makin membaik, kan?” tanya Arya dengan perhatian yang mendalam, matanya menatap lekat wajah gadis itu.
“Sudah jauh lebih baik, Mas. Terima kasih banyak sekali. Kalau tidak ada bantuan Mas Arya, entah apa yang akan terjadi sama kami berdua. Laras tidak tahu harus membalas kebaikan ini dengan apa,” jawab Larasati dengan mata yang berbinar penuh rasa syukur.
Percakapan mereka berlangsung tenang, penuh rasa hormat, dan jauh dari kata-kata kotor atau rayuan yang biasa terjadi di tempat itu. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Tiba-tiba, keributan terdengar dari arah meja besar di tengah ruangan. Sekelompok pria paruh baya yang tampak mabuk berat sedang tertawa keras, bersorak-sorai sambil memanggil-manggil nama para pekerja wanita. Salah satu dari mereka, seorang pria berbadan besar dengan wajah merah padam karena alkohol, menunjuk-nunjuk ke arah Larasati dengan gerakan kasar.
“Hei! Kamu yang di sana! Siapa namamu? Sini kemari! Lama sekali kita tidak lihat kamu. Sibuk saja melayani yang di sudut itu ya? Meremehkan kami ya hah?” teriak pria itu dengan suara parau yang menggelegar seisi ruangan.
Larasati menoleh, merasa cemas. Ia mengenal pria itu—Pak Hendra, salah satu pelanggan yang paling sulit, paling kasar, dan paling sering membuat onar. Larasati biasanya berusaha menghindar darinya sebisa mungkin. Ia menundukkan wajah, berusaha berpura-pura tidak mendengar, berharap pria itu akan beralih ke orang lain.