Hujan turun rintik-rintik membasahi jalanan kota, menciptakan suara gemerisik lembut yang terdengar menenangkan di sela-sela keheningan malam. Di sudut ruangan yang biasanya penuh hiruk-pikuk, suasana malam itu terasa agak sepi. Hanya ada beberapa pengunjung yang masih bertahan, duduk di meja-meja jauh, tenggelam dalam obrolan mereka sendiri. Di dekat meja langganannya, Arya duduk diam, menatap Larasati yang duduk berhadapan dengannya. Wajah gadis itu tampak pucat, matanya sembab, dan senyum yang biasa ia pasang rapi kini hilang sama sekali, tergantikan oleh raut kesedihan yang mendalam dan ketegangan yang terasa jelas.
Sejak kejadian kemarin, sejak berita dan gosip buruk tentang hubungan mereka menyebar luas, Larasati berubah. Ia menjadi lebih pendiam, lebih sering menunduk, dan tatapannya selalu dipenuhi rasa bersalah yang besar. Ia merasa menjadi penyakit bagi Arya. Ia merasa kehadirannya, pertemuannya, dan segala kebaikan yang diterimanya dari pemuda ini hanya akan membawa kerugian dan aib bagi Arya yang hidup bersih dan terhormat.
Namun malam ini, Larasati sudah mengambil keputusan bulat. Ia tidak mau lagi menyembunyikan apa-apa. Ia tidak mau lagi membiarkan Arya menebak-nebak, atau membiarkan orang lain menafsirkan hubungan mereka dengan cara yang kotor. Ia akan bercerita. Ia akan membongkar semua rahasia yang selama ini terkunci rapat di dalam hatinya, rahasia yang hanya ia bagikan pada dinding kamar dan bantal tempat ia menangis setiap malam.
“Mas Arya...” suara Larasati terdengar pelan, hampir hilang tertelan suara musik pelan yang mengalun. Tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan, jari-jarinya saling menekan seolah mencari kekuatan. “Malam ini... bolehkah saya bicara panjang lebar? Saya ingin menceritakan semuanya. Apa yang belum pernah saya ceritakan pada siapa pun selain Nenek saya.”
Arya mengangguk perlahan, menatapnya dengan tatapan yang penuh kesabaran dan kesiapan mendengarkan. Ia tidak bertanya, tidak memaksa, hanya diam memberikan ruang sepenuhnya bagi gadis itu untuk berbicara. “Bicaralah, Laras. Saya ada di sini. Saya akan mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutmu, dan saya akan menyimpannya baik-baik di sini.” Arya menunjuk dadanya sendiri dengan jari telunjuknya.
Larasati menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, lalu menatap lurus ke manik mata Arya. Di sana, di balik sorot mata yang tenang itu, ia menemukan rasa aman yang memberanikannya untuk mulai bercerita.
“Mas Arya pasti sudah tahu apa pekerjaan saya. Orang-orang di luar sana, tetangga saya, rekan kerja saya, bahkan pelanggan di sini... mereka semua punya penilaian sendiri. Mereka bilang saya gadis yang tidak tahu malu. Mereka bilang saya wanita murah yang menjual diri demi uang, demi kemewahan, demi gaya hidup enak. Mereka bilang saya aib, saya sampah, saya tidak punya harga diri lagi.”
Suara Larasati mulai bergetar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia menahannya agar tidak jatuh dulu. Ia ingin menyelesaikan ceritanya.
“Mereka menilai saya hanya dari apa yang mereka lihat di luar. Mereka melihat saya berpakaian cantik, memakai riasan tebal, berjalan di malam hari, melayani laki-laki dengan ramah... dan langsung menyimpulkan semuanya. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang bertanya: Mengapa kamu ada di sini? Mengapa kamu memilih jalan ini?”
Larasati diam sejenak, menelan ludah yang terasa pahit. Bayangan masa lalu yang kelam kembali berputar di kepalanya, seolah hidup kembali di depan mata.
“Saya lahir di keluarga miskin, Mas. Ibu saya meninggal saat saya masih bayi. Ayah saya pergi meninggalkan kami saat saya berusia empat tahun, entah ke mana, tidak pernah kembali lagi. Sejak itu, saya hanya hidup berdua dengan Nenek. Beliaulah yang membesarkan saya dengan keringat dan air matanya sendiri. Beliau bekerja apa saja demi saya, demi saya bisa makan, demi saya bisa sekolah. Dulu... dulu saya sangat ingin sekali sekolah, Mas. Saya anak yang rajin, saya juara kelas, saya punya banyak sekali cita-cita. Saya ingin jadi guru, saya ingin jadi penulis, saya ingin sekali mengubah nasib kami.”
Satu butir air mata akhirnya lolos, mengalir turun membasahi pipi pucatnya.
“Tapi saat saya berusia enam belas tahun... musibah itu datang. Kesehatan Nenek saya jatuh drastis. Beliau terkena sakit paru-paru kronis yang parah. Dokter bilang beliau butuh pengobatan rutin, butuh obat-obatan mahal, butuh makanan bergizi. Kalau tidak, nyawanya tidak akan tertolong lagi. Saat itu, kami tidak punya apa-apa. Tabungan habis, tetangga mulai menjauh karena kami miskin dan susah. Saya sudah mencari kerja ke mana-mana: jadi pembantu, buruh cuci, penjaga warung... tapi penghasilannya sangat kecil, Mas. Bahkan tidak cukup untuk membeli obat satu kali saja.”