Kupu-Kupu Di Bawah Lampu Kota

M Helmi Akhdan
Chapter #11

Jalan Keluar

Malam semakin larut, namun suasana di sudut ruangan itu tidak lagi dipenuhi rasa sedih atau ketakutan seperti sebelumnya. Setelah seluruh rahasia terbongkar, setelah seluruh kebenaran terungkap, rasanya seolah beban raksasa yang bertahun-tahun memikul pundak Larasati telah terangkat separuh. Di hadapannya, Arya duduk dengan tatapan yang berbinar-binar, seolah sedang merangkai sebuah rencana besar yang telah lama ia persiapkan namun baru sekarang ia berani ungkapkan.

Arya menarik napas panjang, menatap lurus ke mata Larasati yang masih sembab namun kini berbinar penuh rasa percaya. Ia menggenggam kedua tangan gadis itu di atas meja, menciptakan rasa hangat yang menembus hingga ke dalam sanubari.

“Laras, dengar saya baik-baik,” ucap Arya dengan nada suara yang rendah namun tegas dan penuh keyakinan. “Selama ini kamu berjuang sendirian, menanggung segalanya dengan kekuatanmu yang kecil itu. Kamu pikir tidak ada jalan lain, kamu pikir tempat ini adalah satu-satunya cara, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup dan menyelamatkan Nenekmu. Tapi kamu salah. Jalan ini memang ada, tapi ini bukan satu-satunya jalan. Dan jalan ini... terlalu berat dan terlalu gelap untukmu lalui sendirian.”

Larasati menatapnya bingung, namun penuh perhatian. Ia belum mengerti ke mana arah pembicaraan pemuda itu. “Maksud Mas Arya? Laras sudah mencari ke mana-mana, Mas. Tidak ada pekerjaan lain yang bisa memberikan uang secepat dan sebanyak ini. Tidak ada tempat lain yang mau menerima saya dengan ijazah hanya lulusan SMP dan tanpa keahlian khusus.”

Arya tersenyum tipis, senyum yang penuh kebijaksanaan. “Itu karena kamu belum punya kesempatan, belum punya orang yang membantumu membuka jalan. Tapi sekarang, ada saya. Dan saya tidak akan membiarkanmu terus terperangkap di sini selamanya. Saya punya rencana, Laras. Sebuah jalan keluar yang nyata, yang bisa mengubah segalanya.”

Ia diam sejenak, memastikan Larasati siap mendengarkan, lalu melanjutkan penjelasannya dengan rinci.

“Saya seorang penulis, Laras. Pekerjaan saya memang tidak membuat saya menjadi orang yang paling kaya di dunia, tapi cukup untuk hidup layak dan menabung. Selain menulis buku, saya juga sering mengirimkan artikel ke berbagai surat kabar dan majalah, dan saya sering butuh bantuan. Bantuan untuk mencatat, untuk menyalin tulisan, untuk merapikan dokumen, dan membantu riset sederhana. Pekerjaan ini tidak berat, waktunya fleksibel, bersih, terhormat, dan penghasilannya tetap, cukup untuk menutupi kebutuhan hidup dan obat-obatan Nenekmu.”

Mata Larasati membelalak tak percaya. Ia menggeleng pelan, merasa tidak yakin. “Tapi... Mas Arya, Laras tidak bisa. Laras tidak pandai menulis yang indah, Laras tidak banyak tahu hal-hal luas seperti Mas. Laras hanya gadis kampung yang pendidikannya terputus.”

“Dengar saya selesai,” potong Arya lembut namun tegas. “Saya sudah melihat tulisanmu di buku harian itu, Laras. Tulisanmu rapi, bahasamu indah, dan pikiranmu jernih. Kamu pintar, kamu cerdas, dan kamu punya keinginan belajar yang besar—itu sudah kamu buktikan saat kamu masih sekolah dulu. Kamu berhenti bukan karena tidak mampu, tapi karena keadaan yang memaksamu. Dan kemampuan itu tidak hilang begitu saja hanya karena kamu lama tidak memakainya.”

Arya mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, suaranya penuh semangat.

Lihat selengkapnya