Namaku Caca. Kata orang, aku kurus. Kata tetangga, aku terlalu kurus. Tapi menurutku… aku hanya hemat tempat. Kalau berdiri di samping tiang listrik, mungkin orang akan bingung mana aku, mana tiangnya.
Ayahku tidak pernah tertawa mendengar itu. Tapi setiap kali aku makan nambah, matanya diam-diam bersinar seolah aku baru saja memenangkan lomba besar yang tidak pernah diadakan siapa-siapa.
Aku bukan anak yang mudah diingat orang kecuali karena satu hal: tubuhku yang terlalu kurus untuk ukuran anak seusia itu. Kalau berdiri di dekat jemuran, aku sering bercanda sendiri, “jangan-jangan nanti aku ikut terjemur.” Kakakku bilang aku berlebihan. Tapi aku tahu, diam-diam dia juga setuju.
Kulitku hitam manis, kata ibu. Tapi kalau lagi kesal, kakakku menyebutnya “hitam gosong matahari.” Rambutku lurus, tipis, dan sering tidak mau diatur. Kadang ibu menyisirnya pelan sambil menghela napas, seolah rambutku adalah masalah hidup yang harus ia selesaikan satu per satu.
Kami tinggal di sebuah rumah kecil di lereng gunung. Dindingnya dari bata merah yang belum disemen. Kalau hujan turun deras, air suka merembes lewat celah-celah kecil, seperti tamu tak diundang yang tahu cara masuk tanpa permisi.
Aku tidak pernah benar-benar mempermasalahkan itu. Bagiku, rumah itu tetap hangat. Ada suara ibu di dapur, ada ayah dengan topi hitamnya, dan ada kakakku yang selalu punya cara untuk membuatku kesal sekaligus tertawa.
Ayah adalah orang pertama yang bangun di rumah kami. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar muncul, suara ayam dari pohon manggis di halaman sudah lebih dulu memanggil. Tapi yang benar-benar membangunkan kami adalah suara ayah.
“Bangun… Subuh dulu,” katanya.
Tidak pernah keras. Tidak juga lembut sekali. Tapi cukup untuk membuatku tahu bahwa aku tidak punya pilihan selain membuka mata. Aku sering pura-pura belum bangun. Menarik selimut lebih tinggi, berharap ayah akan menyerah. Tapi itu tidak pernah berhasil.
“Caca,” panggilnya lagi.
Ada sesuatu dalam cara ayah memanggil namaku yang sulit dijelaskan. Tidak marah, tapi juga tidak bisa diabaikan. Seperti ada yang menepuk pelan dari dalam dada.
Aku akhirnya bangun juga.
Air wudhu pagi hari selalu dingin, apalagi di musim hujan. Aku sering meringis saat membasuh wajah. Kakakku biasanya sudah lebih dulu selesai, berdiri rapi di belakang ayah, seolah-olah dia anak paling taat di dunia.
Padahal semalam, dialah yang paling lama bercanda.
Ayah menjadi imam. Suaranya tidak keras, tapi jelas. Setiap bacaan terdengar tenang, seperti air yang mengalir tanpa tergesa. Kadang aku tidak benar-benar fokus. Pikiran bisa ke mana-mana ke permainan nanti siang, ke teman-teman, atau bahkan ke bekal yang akan kubawa ke sekolah.
Setelah shalat, ayah tidak langsung duduk santai seperti yang sering kulihat di rumah orang lain. Ia menuju dapur. Di situlah keajaiban kecil setiap pagi terjadi.
Ayah membuatkan kami minuman. Kadang teh, kadang susu. Rasanya tidak selalu sama. Pernah suatu pagi teh yang dibuat ayah terlalu manis sampai aku hampir batuk saat meneguknya. Kakakku langsung tertawa.
“Ini teh atau sirup, Yah?” katanya.
Ayah hanya tersenyum sedikit. Tidak tersinggung. Tidak juga membela diri. Ia mengambil gelas itu, menambah sedikit air panas, lalu mengembalikannya padaku.
“Sekarang coba,” katanya.
Aku minum lagi. Masih manis, tapi lebih bisa diterima.