Kutilang

Nova Yarnis
Chapter #2

Ayah dan Topi Hitamnya

Kalau ada satu benda yang lebih setia dari bayangan mengikuti ayah ke mana pun, itu adalah topi hitamnya. Topi itu tidak pernah absen. Mau pagi, siang, sore, bahkan kadang malam, topi itu selalu ada di kepala ayah. Aku pernah berpikir, mungkin ayah sebenarnya tidak punya rambut, dan topi itu adalah rahasia besar keluarga yang belum boleh dibocorkan.

“Yah, ayah tidur pakai topi juga?” tanyaku suatu malam.

Ayah yang sedang duduk memperbaiki sesuatu di lantai hanya melirik sebentar.

“Memangnya kenapa?” jawabnya.

Aku mendekat, memperhatikan topi itu seperti sedang meneliti benda langka.

“Takut hilang, ya?” lanjutku.

Kakakku langsung tertawa. “Topi warisan nenek moyang kali, Ca. Kalau hilang, kutukan turun.”

Aku ikut tertawa, tapi diam-diam aku penasaran.

Pernah sekali, hanya sekali, aku melihat ayah tanpa topi. Itu pun tidak sengaja. Waktu itu pagi-pagi sekali, aku bangun lebih cepat dari biasanya. Aku keluar kamar dengan mata masih setengah tertutup, lalu melihat ayah di depan cermin kecil di dinding. Tanpa topi. Aku langsung berhenti di tempat. Seperti melihat sesuatu yang seharusnya tidak kulihat. Ayah juga sadar aku berdiri di situ. Ia menoleh sebentar, lalu dengan santai mengambil topinya dan memakainya.

“Sudah bangun?” katanya, seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku mengangguk pelan.

Sejak saat itu, aku yakin: topi itu bukan sekadar topi. Itu… identitas. Atau mungkin… perlindungan. Atau mungkin juga… ayah cuma suka.

Pagi itu, seperti biasa, dimulai dengan suara ayam yang terlalu semangat menjalankan tugasnya. Aku membuka mata sambil menarik selimut.

“Lima menit lagi,” gumamku.

Masalahnya, di rumah kami, lima menit itu tidak pernah benar-benar ada.

“Caca,” suara ayah terdengar dari luar kamar.

Aku langsung pura-pura tidur lebih dalam.

“Cacaaa…”

Nada suaranya naik sedikit.

Aku tetap diam. Sampai akhirnya pintu terbuka.

“Kalau tidak bangun, nanti airnya makin dingin,” katanya.

Itu ancaman yang sangat nyata.

Aku langsung bangun.

“Kok ayah tahu aku belum bangun?” kataku sambil mengucek mata.

Ayah tidak menjawab. Ia hanya berjalan ke dapur. Aku menatap kakakku yang sudah duduk rapi.

“Kau lapor, ya?” tuduhku.

“Ngapain? Suara napasmu saja sudah kayak kerbau tidur,” jawabnya santai.

Aku melempar bantal kecil ke arahnya. Dia menghindar dengan mudah.

Hari itu berjalan seperti biasa. Shalat, sarapan, bersiap. Tapi ada satu kejadian kecil yang membuat pagi itu sedikit berbeda.

Bekal ayah.

Ibu sudah menyiapkan nasi dan telur seperti biasa. Ayah memasukkannya ke dalam tas kecil yang sudah mulai pudar warnanya.

Lihat selengkapnya