Kalau ada lomba sarapan paling sederhana tapi tetap dimakan dengan penuh keyakinan, keluargaku mungkin sudah menang dari dulu. Menu kami hampir tidak pernah berubah.
Nasi.
Telur.
Dan sesuatu yang disebut ibu sebagai “pelengkap” yang kadang hanya berarti cabai giling.
Tapi anehnya, setiap pagi selalu terasa berbeda. Mungkin karena cara kami memakannya. Atau karena suasananya. Atau karena… kami memang tidak punya pilihan lain selain menikmatinya.
Pagi itu, aku duduk di lantai dengan kaki dilipat rapi. Di depanku ada piring berisi nasi putih dan sepotong telur yang dibagi dua. Aku menatap telur itu lama. Setengah untukku. Setengah untuk kakakku. Masalahnya… setengahnya tidak pernah benar-benar sama.
“Yang ini lebih besar,” kataku sambil menunjuk bagian di piring kakakku.
“Perasaanmu saja,” jawabnya cepat.
Aku mendekatkan wajah, memastikan.
“Tidak! Ini jelas lebih besar. Lihat, kuning telurnya lebih banyak.”
Kakakku langsung menutup piringnya dengan tangan.
“Jangan dilihat-lihat! Nanti berkurang,” katanya.
Aku mendengus.
“Ibuuu…” panggilku.
Belum sempat aku melanjutkan laporan, ibu sudah lebih dulu bicara dari dapur.
“Kalau ribut, dua-duanya tidak usah makan.”
Aku langsung diam. Kakakku juga. Kami saling melirik. Lalu… makan seperti tidak terjadi apa-apa.
Beberapa detik kemudian, suara itu muncul.
“Cpak… cpak… cpak…”
Aku menoleh pelan.
Kakakku.
Aku menahan senyum.
Ayah yang duduk di depan kami berhenti makan. Ia tidak langsung bicara. Hanya menatap.
Itu sudah cukup.
Suara “cpak” langsung hilang.
Aku menunduk, pura-pura fokus makan, padahal dalam hati aku sedang tertawa besar. Ayah tidak pernah marah besar. Tapi entah kenapa, satu tatapan saja sudah cukup untuk membuat kami kembali ke “jalan yang benar”.
“Ayah,” kataku tiba-tiba.
“Ya?”
“Kalau makan tidak boleh bunyi… kalau perut bunyi boleh tidak?”