Rumah kami punya satu kelebihan yang tidak dimiliki rumah lain. Kalau hujan turun, kami tidak perlu keluar untuk merasakan “gerimis”.
Airnya masuk sendiri.
Lewat jendela.
Lewat celah dinding.
Kadang… lewat tempat yang bahkan tidak kami tahu sebelumnya ada lubang di situ.
Hari itu hujan turun sejak siang. Tidak terlalu deras, tapi cukup lama untuk membuat tanah di sekitar rumah berubah jadi lumpur yang setia menempel ke mana-mana.
Aku duduk di dalam rumah, memperhatikan satu titik di dinding.
“Tetesannya mulai lagi,” gumamku.
“Yang mana?” tanya kakakku dari belakang.
Aku menunjuk.
Dia mendekat.
Tepat saat itu…
“Tik.”
Satu tetes air jatuh. Kami berdua diam.
Menunggu.
“Tik.”
Jatuh lagi.
“Ini sudah seperti jam dinding,” kataku serius.
Kakakku mengangguk.
“Bedanya, ini tidak pernah telat.”
Kami berdua tertawa. Ibu masuk membawa ember kecil, lalu meletakkannya tepat di bawah tetesan itu.
“Kalau sudah bunyi ‘tik tik’ begitu, berarti harus siap-siap,” katanya santai.
Seolah-olah ini hal biasa. Padahal… memang sudah biasa.
Aku memperhatikan ember itu. Air mulai terkumpul sedikit demi sedikit. Dalam hati aku berpikir, kalau dibiarkan lama, mungkin kami bisa punya kolam sendiri di ruang tamu.
“Bu,” kataku.
“Ya?”
“Kalau hujan lama, kita bisa pelihara ikan di sini, tidak?”
Ibu menoleh, menatapku sebentar, lalu tersenyum tipis.
“Kalau kau yang kasih makan tiap hari, boleh.”
Aku langsung semangat.
“Beneran?”
“Boleh,” jawabnya lagi.
Kakakku langsung menyela, “Jangan percaya. Nanti yang makan ikan kita sendiri.”
Aku mendengus.
Belum sempat aku membalas, suara dari luar terdengar.