Kutilang

Nova Yarnis
Chapter #5

Perang Batu Mini

Sejak kejadian sore itu, aku dan kakakku sepakat untuk melakukan satu hal penting dalam hidup kami: Menghindari anak tetangga.

Bukan karena takut.

Ya… mungkin sedikit takut. Tapi lebih karena… malas. Malas ribut. Malas dituduh. Dan yang paling penting malas dimarahi tanpa alasan.

“Mulai hari ini, kita main di belakang saja,” kata kakakku dengan nada seperti seorang jenderal perang.

“Belakang rumah?” tanyaku.

“Iya. Lebih aman.”

Aku mengangguk mantap.

Padahal dalam hati aku tahu, “belakang rumah” itu artinya lebih dekat ke semak-semak, lebih banyak nyamuk, dan lebih sedikit teman. Tapi demi kedamaian… aku rela.

Hari pertama “pengasingan” kami berjalan cukup baik. Kami bermain dengan tenang. Tidak ada yang berteriak. Tidak ada yang menangis. Bahkan tidak ada yang memanggil kami “kutilang”.

“Aman juga ya,” kataku sambil duduk di atas batu.

Kakakku mengangguk sambil melempar-lempar ranting kecil.

“Kadang, menjauh itu lebih enak,” katanya sok bijak.

Aku menatapnya curiga.

“Sejak kapan kau pintar begitu?”

“Sejak aku punya adik sepertimu,” jawabnya cepat.

Aku melempar ranting ke arahnya. Dia menghindar dengan mudah.

Kami tertawa.

Semua terasa damai.

Sampai…

“Tik!”

Sebuah benda kecil mengenai dinding rumah. Kami berdua berhenti.

“Tik!”

Kali ini lebih jelas.

Aku berdiri perlahan.

“Jangan bilang…” kataku pelan.

Kakakku sudah lebih dulu berjalan ke samping rumah, mengintip. Lalu dia kembali, wajahnya datar.

“Mereka,” katanya singkat.

Aku langsung paham. Belum sempat aku bicara…

“Tik! Tik! Tik!”

Sekarang bukan satu tapi beberapa batu kecil mulai berjatuhan ke arah rumah kami.

Tidak besar.

Tidak sampai merusak tapi cukup untuk membuat kesal.

Aku berdiri kaku.

“Kenapa sih?” kataku setengah kesal.

Lihat selengkapnya