Sejak aku resmi mendapat gelar “KUTILANG” yang entah siapa pertama kali menciptakannya, hidupku di sekolah jadi sedikit lebih… berisik. Bukan karena aku banyak bicara. Justru sebaliknya. Orang lainlah yang terlalu rajin memanggil.
“Kuuuutilaaang…”
“Eh, burung lewat!”
“Jangan terbang dulu, nanti anginnya kencang!”
Awalnya aku tidak mengerti kenapa mereka merasa itu lucu. Aku bahkan sempat berpikir, mungkin memang ada sesuatu di diriku yang mirip burung. Aku pernah diam-diam berdiri di depan cermin, memperhatikan tubuhku sendiri dari berbagai sudut.
Kurus, iya. Tinggi untuk anak seusiaku, juga iya. Langsing… ya, kalau itu memang maksudnya.
Tapi burung?
Aku menoleh ke kiri, lalu ke kanan, berharap tiba-tiba ada sayap yang muncul dari punggungku.
Tidak ada.
“Hm… mungkin belum tumbuh,” gumamku waktu itu.
Kakakku yang kebetulan lewat langsung berhenti.
“Kau ngapain?” tanyanya.
Aku menunjuk punggungku sendiri.
“Menurutmu… aku ada sayap tidak?”
Kakak menatapku beberapa detik lalu tertawa. Bukan tertawa biasa. Tertawa yang membuatnya harus memegang perut.
“Tidak ada,” katanya di sela-sela tawa. “Tapi kalau ada, mungkin kau sudah kabur dari rumah.”
Aku cemberut.
Sejak hari itu, aku berhenti mencari sayap yang tidak ada. Tapi panggilan itu tidak berhenti. Malah semakin sering. Kadang mereka menyebutnya pelan, seperti berbisik. Kadang juga keras, seperti ingin semua orang tahu.
Aku mencoba beberapa cara untuk menghadapi itu.
Cara pertama: pura-pura tidak dengar.
Masalahnya, telingaku berfungsi dengan baik. Terlalu baik, malah. Jadi walaupun aku pura-pura tidak dengar, dalam hati aku tetap mendengar dengan sangat jelas.
Cara kedua: menatap balik.
Aku pernah mencoba ini sekali. Aku menatap mereka cukup lama, berharap mereka merasa bersalah atau setidaknya berhenti.
Hasilnya?
Mereka malah tertawa.
“Lihat! Kutilang marah!” kata salah satu dari mereka.
Aku langsung menunduk lagi.
Cara ketiga: menjawab.
Ini adalah ide terburuk yang pernah kucoba.
“Aku bukan kutilang,” kataku waktu itu.
“Terus apa?” tanya mereka.
Aku diam.
Mereka langsung bersorak, seolah-olah baru saja memenangkan sesuatu.
Sejak saat itu, aku menyerah. Bukan menyerah dalam arti kalah. Lebih ke… tidak tahu harus bagaimana lagi.
Sore itu, setelah pulang sekolah, aku duduk di dapur dekat ibu. Ia sedang menumbuk cabai, sepertinya dengan gerakan yang sudah sangat hafal.
Aku memperhatikan tangannya. Gerakannya tenang. Tidak terburu-buru. Tidak juga lambat. Seperti sudah tahu kapan harus berhenti, kapan harus lanjut.
“Ibu,” panggilku pelan.
“Ya?”
Aku tidak langsung bicara. Entah kenapa, setiap kali mau mengadu, rasanya seperti harus melewati sesuatu dulu di dalam dada.
“Ibu…” ulangku.
Ibu berhenti menumbuk. Menoleh.
“Ada apa?”
Aku menatap lantai.
“Di sekolah… aku dipanggil kutilang.”
Hening sebentar.
Aku menunggu. Mungkin ibu akan marah.
Mungkin ibu akan langsung bilang, “Siapa yang berani?” Atau mungkin… ibu akan menyuruhku melawan. Tapi ibu tidak melakukan itu.
Ia hanya berkata, “Memangnya kenapa?”
Aku mengangkat kepala.
“Ya… tidak enak saja,” jawabku jujur.
Ibu mengangguk pelan. Lalu melanjutkan menumbuk.
Aku sedikit bingung.
“Tidak apa-apa?” tanyaku lagi.
Ibu tersenyum tipis.
“Kalau kau marah, mereka senang,” katanya.
Aku mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Karena itu yang mereka cari.”