Kalau ada satu hal yang tidak pernah berubah di rumah kami selain topi ayah itu adalah suara ibu menjelang kami mengaji.
Bukan suara biasa.
Lebih tepatnya… dendangan.
Aku tidak tahu sejak kapan ibu mulai melakukannya. Seingatku, itu sudah ada sejak aku cukup besar untuk duduk diam (walaupun kadang hanya pura-pura diam).
Setiap selesai magrib, sebelum kami membuka Alquran, ibu akan duduk sedikit menyamping, menarik napas pelan, lalu mulai:
“Tuhan kita tuhan Allah…”
“Nabi kita nabi Muhammad…”
Nada suaranya sederhana. Tidak tinggi, tidak juga rendah. Tapi entah kenapa… selalu pas. Seperti suara yang tahu ke mana harus pergi.
Awalnya aku menganggap itu biasa saja. Bahkan kadang terasa seperti… pengantar tidur.
Pernah suatu malam, saat ibu mulai berdendang, aku sudah setengah mengantuk.
Kepalaku mulai jatuh ke samping.
Mata hampir tertutup.
Sampai tiba-tiba
“Caca,” suara ayah pelan.
Aku langsung tegak.
“Tidak boleh tidur sebelum selesai,” katanya.
Aku mengangguk cepat, walaupun mataku masih terasa berat. Kakakku di sampingku menyenggol pelan.
“Kalau kau tidur, nanti mimpi jadi kutilang beneran,” bisiknya.
Aku langsung melotot.
Dia menahan tawa.
Sejak itu, aku berusaha lebih fokus… walaupun kadang masih kalah dengan kantuk. Tapi ada satu hal yang aneh. Walaupun aku sering tidak benar-benar memperhatikan, kata-kata dalam dendangan ibu itu… seperti masuk sendiri ke dalam kepalaku.
Tanpa diminta.
Tanpa dihafal.
Tiba-tiba saja ada. Seperti tamu yang tidak pernah mengetuk pintu, tapi tahu jalan masuk.
Suatu malam, setelah selesai mengaji, aku mencoba menirukan dendangan itu.
Pelan-pelan.
Setengah berbisik.
“Tuhan kita… tuhan Allah…” gumamku.
Aku berhenti.
Mencoba mengingat lanjutannya.
“Nabi kita… nabi Muhammad…”
Aku tersenyum kecil.
“Eh… aku hafal,” kataku pada diri sendiri.
Kakakku yang sedang membereskan Alquran langsung menoleh.
“Kau ngomong apa?”
“Aku hafal dendangan ibu,” kataku bangga.