Hari ujian selalu punya dua rasa. Takut dan lapar. Aku tidak tahu kenapa setiap kali ujian, perutku terasa lebih cepat kosong. Padahal sebelum berangkat, aku sudah makan seperti biasa nasi, telur, dan… ya, bagian telur yang selalu terasa lebih kecil dari punya kakakku.
Pagi itu aku duduk di kelas dengan posisi paling rapi yang pernah kulakukan sepanjang hidupku. Punggung tegak. Tangan di atas meja. Wajah serius. Seolah-olah aku ini murid paling siap menghadapi masa depan.
Padahal di dalam kepala?
Kosong.
Benar-benar kosong. Seperti papan tulis yang sudah dihapus bersih… bahkan sebelum ditulis.
“Kertasnya dibagikan sekarang,” kata Bu Guru.
Suasana kelas langsung berubah yang tadinya ribut… mendadak sunyi. Sunyi yang aneh. Sunyi yang penuh bisik-bisik kecil.
Kertas ujian sampai di mejaku. Aku menarik napas.
“Bismillah,” gumamku pelan.
Aku membalik kertas. Melihat soal pertama. Masih aman. Soal kedua. Masih bisa. Soal ketiga…mulai ragu.
Aku melanjutkan. Sampai akhirnya…Aku berhenti.
Soal nomor… entah berapa. Aku tidak ingat yang jelas, soal itu membuatku menatap lebih lama dari yang seharusnya.
“Siapakah wanita yang menyusukan Nabi Muhammad?”
Aku mengerutkan kening.
Membaca ulang.
Pelan.
Sekali lagi.
Dan lagi.
Aku yakin… aku pernah mendengar ini.
Sangat yakin.
Tapi dari mana?
Buku?
Tidak.
Sekolah?
Belum.
Teman?
Tidak mungkin.
Aku menatap ke depan. Bu Guru duduk di meja dengn tenang. Seolah-olah tidak ada yang panik. Padahal aku… hampir panik.
“Ini pasti pernah aku dengar…” gumamku dalam hati.
Aku mencoba mengingat.
Memaksa tapi semakin dipaksa… semakin kosong. Seperti mengejar sesuatu yang lari semakin jauh.
Aku menunduk. Mengetuk-ngetuk pensil pelan.
Berpikir.
Tanpa sadar…aku mulai bersenandung.
Sangat pelan.
Hampir seperti bisikan.
“Tuhan kita tuhan Allah…”
“Nabi kita nabi Muhammad…”
Aku berhenti. Mata sedikit membesar.
“Eh…”
Aku lanjutkan.
“Rosul kita rosulullah…”
“Bapaknya Abdullah…”
“Ibunya Siti Aminah…”
Jantungku mulai berdetak lebih cepat. Aku hampir berdiri.
“Tunggu… tunggu…”
Aku menutup mata sebentar mengulang lagi dari awal.
Lebih pelan.
Sampai akhirnya
“Menyusukannya… Halimatun Sa’diah…”
Aku membuka mata.
Seperti baru menemukan harta karun.
“Itu!” bisikku pelan.
Tanganku bergerak cepat.
Takut kalau tiba-tiba lupa lagi.