Kutilang

Nova Yarnis
Chapter #9

Kutilang Tahan Banting

Sejak hari ujian itu, ada satu hal yang berubah dalam diriku.

Bukan wajahku.

Bukan tubuhku.

Dan jelas bukan julukanku.

“KUTILANG” masih setia menemani hari-hariku di sekolah. Bedanya… sekarang aku tidak terlalu peduli. Bukan karena mereka berhenti. Tapi karena aku mulai tahu cara menghadapi mereka.

Jurus ibu.

Senyum.

Masalahnya… senyum itu tidak selalu datang tepat waktu.

Kadang aku lupa.

Kadang aku ingat… tapi terlambat.

Dan kadang… aku malah ingin melempar sesuatu dulu baru senyum seperti pagi itu.

Aku baru saja masuk kelas, masih sibuk menaruh tas, ketika suara itu datang lagi.

“KUTILANG datang!”

Aku berhenti.

Menarik napas. Ingat… senyum.

Aku menoleh dan… tersenyum. Tidak lebar. Tidak dibuat-buat.

Anak yang memanggilku itu langsung terdiam. Temannya di sampingnya menyikut.

“Dia senyum lagi,” bisiknya.

Aku tetap diam tetap senyum lalu… duduk seperti tidak terjadi apa-apa.

Beberapa detik kemudian, mereka malah sibuk sendiri.

Aku menghela napas pelan.

“Berhasil lagi,” gumamku.

Di dalam hati, aku merasa seperti punya kekuatan baru. Bukan kekuatan yang bisa membuat orang jatuh atau menangis. Tapi… sesuatu yang membuat orang berhenti. Dan itu… cukup menyenangkan.

Jam istirahat tiba. Seperti biasa, anak-anak langsung keluar kelas seperti burung lepas dari sangkar. Aku berjalan lebih pelan. Tidak terburu-buru.

Di halaman, beberapa anak sedang bermain. Aku duduk di pinggir. Menonton. Sampai seseorang datang dan duduk di sebelahku.

“Kau tidak main?” tanyanya.

Aku menoleh.

Teman sekelas y ang biasanya ikut tertawa kalau aku dipanggil “kutilang”. Hari ini… tidak.

“Tidak,” jawabku.

“Kenapa?”

Aku mengangkat bahu.

“Lagi ingin duduk saja.”

Dia mengangguk beberapa detik diam dan dia berkata,

“Kau tidak marah, ya?”

Aku mengerutkan kening.

“Marah apa?”

“Itu… yang mereka panggil kau.”

Aku tersenyum kecil.

Lihat selengkapnya