Kutilang

Nova Yarnis
Chapter #10

Ayah dan Ceramah Tanpa Update

Kalau ada satu hal yang paling konsisten di rumah kami selain topi ayah dan kebocoran saat hujan itu adalah nasihat ayah.

Setiap hari.

Setiap waktu yang tepat.

Dan kadang… di waktu yang menurutku tidak terlalu tepat.

“Jangan malas belajar.”

Kalimat itu seperti udara.

Selalu ada.

Aku bahkan bisa menebak kapan ayah akan mengatakannya.

Pagi sebelum berangkat kerja? Pasti.

Malam saat makan? Sudah jelas.

Setelah aku terlihat santai terlalu lama? Jangan ditanya.

Aku pernah mencoba menghitung berapa kali ayah mengucapkannya dalam satu hari. Hasilnya… aku menyerah di angka lima. Bukan karena berhenti. Tapi karena aku bosan menghitungnya.

Malam itu, seperti biasa, kami makan bersama di lantai.

Nasi.

Telur.

Dan sesuatu yang hari itu terasa sedikit lebih pedas dari biasanya.

Aku meniup-niup nasi sebelum makan. Kakakku langsung mulai duluan. Dan… seperti biasa…

“Cpak… cpak… cpak…”

Aku melirik ayah.

Tunggu.

Satu.

Dua.

Tiga…

Ayah mengangkat kepala.

“Makan itu tidak bersuara,” katanya.

Tepat.

Aku hampir tertawa. Kakakku langsung diam. Seolah-olah ada tombol yang dimatikan.

Aku menunduk, pura-pura serius makan. Tapi dalam hati…

Benar lagi.

Setelah makan, seperti biasa, ayah mulai bicara.

“Belajar itu penting,” katanya.

Aku mengangguk.

Refleks.

“Bukan hanya supaya pintar. Tapi supaya tahu.”

Aku mengangguk lagi. Walaupun dalam hati… mulai muncul suara kecil.

Iya… tahu… ini lagi…

“Kalau tidak belajar, nanti susah.”

Aku menghela napas pelan.

Pelan sekali supaya tidak terdengar.

Kakakku duduk di sampingku, wajahnya datar. Tapi aku tahu… dia juga sedang mendengar hal yang sama seperti aku.

Setiap hari.

Kalimat yang sama.

Nada yang hampir sama.

Urutan yang… ya, hampir sama juga.

Aku mulai berpikir.

Kenapa tidak diganti saja ya?

Misalnya:

“Hari ini kita belajar sambil berdiri.”

Atau,

“Siapa yang paling cepat belajar, dapat hadiah.”

Lihat selengkapnya