Hari libur itu seharusnya menyenangkan. Bangun lebih siang. Tidak pakai seragam. Tidak ada PR yang mendesak (walaupun sebenarnya ada, tapi pura-pura tidak ada). Tapi ada satu hal yang membuat hari libur di rumah kami sedikit… berbeda.
Ayah tidak pergi bekerja. Dan itu berarti pengawasan tingkat tinggi.
Pagi itu, aku bangun dengan sangat yakin bahwa hari ini akan jadi hari santai.
Aku menggeliat di kasur.
Menarik selimut.
Menutup mata lagi.
“Nanti saja bangunnya,” gumamku.
Belum sampai satu menit…
“Caca.”
Suara ayah cukup untuk membuatku langsung membuka mata. Aku menatap langit-langit.
Kenapa suara ayah selalu tepat waktu?
Aku menarik napas.
“Ya, ayah…” jawabku dengan suara setengah sadar.
“Sudah subuh,” katanya.
Aku melirik ke jendela masih agak gelap.
Ini masih malam… sedikit lagi…
“Sebentar lagi…” kataku.
Tidak ada jawaban. Aku menutup mata lagi. Lima detik. Sepuluh detik.
“Caca.”
Nada yang sama tapi kali ini… sedikit lebih jelas.
Aku menghela napas.
Baiklah.
Aku bangun seperti orang yang sedang menghemat tenaga.
Di ruang depan, ayah sudah duduk. Topinya… tentu saja… sudah di kepala. Aku mulai curiga, mungkin ayah tidur juga pakai topi.
Aku mengambil air wudhu. Mata masih setengah tertutup. Shalat pun berjalan…ya, seperti orang yang baru bangun.
Gerakannya ada. Jiwa… masih menyusul. Setelah selesai, aku langsung ingin kembali ke kasur. Tapi
“Jangan tidur lagi,” kata ayah.
Aku berhenti di tengah langkah.
“Kenapa?” tanyaku.
“Sudah siang nanti.”
Aku melihat keluar masih belum terang. Tapi aku tidak berani membantah.
Aku duduk saja.
Diam beberapa menit sampai akhirnya… benar-benar terang.
Hari mulai berjalan. Ibu sibuk di dapur. Kakakku entah ke mana mungkin sudah keluar sejak tadi.
Ayah…di belakang rumah memperbaiki sesuatu. Selalu ada yang diperbaiki.
Aku berdiri di ambang pintu.
Melihat ke luar.
Udara dingin.
Angin pelan.
Hari yang sebenarnya… enak untuk tidak melakukan apa-apa.
Aku duduk di lantai.
Bersandar ke dinding.
Mengambil sepotong kayu kecil yang entah dari mana.
Memainkannya.
Memutar.