Aku keluar rumah dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Bukan karena aku terlambat. Tapi karena aku ingin… menjauh sebentar dari pikiranku sendiri.
Tentang ayah.
Tentang tembok.
Tentang “bagaimana bisa tahu”.
Semakin kupikirkan, semakin tidak masuk akal. Dan semakin tidak masuk akal… semakin menakutkan. Jadi aku memutuskan untuk melakukan hal paling masuk akal menurutku saat itu: main.
Aku melangkah ke jalan kecil di depan rumah. Tanahnya masih sedikit lembap. Udara siang hangat, tapi angin dari arah gunung membuatnya tidak terlalu panas.
Aku menunduk sebentar. Melihat kakiku. Sandal merah di kiri. Hijau di kanan. Aku mengangkat satu kaki. Mengamatinya.
“Hm… cocok juga,” gumamku.
Lalu aku tertawa sendiri. Kalau dipikir-pikir, hidupku memang sering tidak cocok-cocok amat. Tapi tetap jalan.
Aku melompat kecil.
Sekali.
Dua kali.
Sambil menggoyangkan karet panjang yang kulilit di tangan.
Tujuanku satu: halaman rumah gadang.
Tempat paling aman untuk bermain dan tempat paling tidak peduli apakah sandalmu sama atau tidak.
Begitu sampai, aku melihat teman-temanku sudah berkumpul.
“Lama sekali!” teriak salah satu.
“Aku hampir pulang!” tambah yang lain.
Aku berhenti.
Menaruh tangan di pinggang.
“Baru juga datang,” kataku.
“Karet bawa?” tanya mereka serempak.
Aku mengangkat tangan menunjukkan karet yang sudah dililit rapi.
“Kalau tidak bawa, aku tidak akan diterima, kan?” kataku.
Mereka tertawa.
“Iya juga.”
Aku langsung merasa… penting.
Sedikit.
Tidak banyak tapi cukup untuk membuatku tersenyum.
Kami mulai bermain. Permainan pertama: main lalu. Dua orang memegang karet di kiri dan kanan yang lain siap melompat.
Aku mengambil posisi siap.
“Satu le dua tiga siapa telat itu memutar!”
Kami mulai. Karet diputar. Aku melompat.
Masuk.
Keluar.
Putar.
Lompat lagi.
Tubuhku bergerak ringan seperti sudah hafal. Dan memang… sudah. Aku jarang salah. Bukan karena aku paling hebat tapi karena aku terlalu sering bermain.
“Eh, Caca jangan cepat-cepat!” teriak salah satu.
“Kejar!” balasku.
Mereka tertawa. Permainan semakin cepat. Satu per satu mulai gagal. Ada yang terlambat melompat. Ada yang tersangkut. Ada yang malah berhenti di tengah karena lupa gerakan. Dan seperti biasa…aku masih bertahan. Sampai akhirnya
“Eh!”
Kakiku sedikit terlambat. Karet menyentuh. Aku berhenti. Menatap ke bawah. Lalu tertawa.
“Ya sudah… gantian,” kataku.
Aku pindah posisi menjadi pemegang karet. Tidak masalah. Dalam permainan ini, kalah bukan berarti kalah. Hanya… pindah tugas.
Kami lanjut. Kali ini aku yang memegang. Melihat teman-temanku melompat. Ada yang serius. Ada yang sambil tertawa. Ada yang terlalu percaya diri… lalu jatuh sendiri.
“Eh! Jangan dorong!”
“Aku tidak dorong!”
“Kau tadi dekat sekali!”
Aku tertawa.
Suasana seperti ini… tidak bisa ditemukan di mana-mana. Tidak ada hadiah. Tidak ada piala. Tapi semua ingin menang. Dan semua tetap tertawa walaupun kalah. Setelah beberapa putaran, kami mulai bosan.
“Ganti!” teriak seseorang.