Sejak hari itu, aku mulai memperhatikan ayah dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai ayah yang selalu pakai topi. Bukan juga sebagai ayah yang suka mengulang nasihat. Tapi… sebagai seseorang yang sepertinya tahu sesuatu lebih dulu. Aku tidak tahu apa. Dan itu justru membuatku semakin penasaran.
Pagi itu, seperti biasa, ayah bersiap berangkat kerja. Motor merahnya sudah di depan rumah. Mesinnya kadang hidup, kadang mati sendiri seperti masih berpikir mau ikut kerja atau tidak.
Aku berdiri di pintu. Memperhatikan ayah memakai sepatu. Topinya sudah di kepala. Tentu saja.
“Ayah,” panggilku.
“Iya?”
Aku ragu sebentar.
Aku bertanya, “Ayah… bisa tahu ya kalau aku bohong?”
Ayah berhenti.
Matanya tidak tajam tapi juga tidak main-main.
“Kenapa?” tanyanya.
Aku cepat-cepat menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Ayah menatapku beberapa detik seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.
Ia berkata, “kalau kau jujur, ayah tidak perlu tahu.”
Aku terdiam.
Jawaban itu…tidak menjawab tapi terjawab.
Aku menunduk.
“Iya,” kataku pelan.
Ayah berdiri mendekat. Mengusap kepalaku sebentar. Gerakannya singkat namun hangat.
“Jaga diri di rumah,” katanya.
Aku mengangguk.
Motor dinyalakan. Kali ini berhasil.
Ayah berangkat. Aku masih berdiri di pintu melihatnya sampai hilang di tikungan. Aku masuk kembali ke dalam rumah.
Sepi. Ibu sudah ke sawah. Kakakku entah ke mana. Tinggal aku dan pikiranku.
Aku duduk di tempat kemarin aku pura-pura shalat. Aku melihat ke arah tembok. Tembok yang sama yang kemarin “tidak bisa ditembus”… tapi ternyata bisa. Setidaknya oleh ayah.
Aku mengetuknya pelan.
Tok.
“Tidak mungkin temboknya yang salah,” gumamku.
Aku bersandar.
Menarik napas.
Kalau bukan tembok… berarti apa?
Aku memejamkan mata sebentar mengingat lagi suara ayah.
Pertanyaannya.
Cara dia bicara.
Tidak marah.
Tidak juga ragu.
Seperti… sudah tahu.
Aku membuka mata.
Duduk lebih tegak.
“Insting?” gumamku.
Aku pernah mendengar ibu menyebut kata itu tapi aku belum benar-benar mengerti.
Aku mencoba menebak.
Insting itu… seperti apa ya?
Apakah seperti… suara di kepala?
Atau seperti… rasa di dada?
Atau… seperti ketika kita tahu hujan akan turun walaupun langit belum gelap?
Aku menghela napas.
Semakin dipikir… semakin banyak pertanyaan.
Aku berdiri.