Malam di rumah kami tidak pernah benar-benar sepi. Bukan karena ramai tapi karena selalu ada sesuatu yang hidup di dalamnya.
Suara angin yang masuk dari celah jendela. Derit kayu tua yang seperti mengeluh pelan. Dan… langkah ibu yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Malam itu, aku sudah hampir tidur ketika ibu membangunkanku.
“Ca… pindah ke kamar,” katanya pelan.
Aku membuka mata setengah.
“Kenapa, Bu…” gumamku.
“Ibu mau ambil air ke masjid.”
Aku langsung bangun sedikit.
“Temani ibu,” kataku cepat.
Ibu menggeleng.
“Tidak usah. Sudah malam.”
Aku menarik selimut.
“Tapi aku takut ibu sendirian.”
Ibu tersenyum.
“Tidak apa-apa. Ibu biasa.”
Aku diam dalam hati, aku masih ingin ikut tapi tubuhku… masih terlalu nyaman di bawah selimut.
Ibu memastikan aku masuk kamar. Menyelimuti aku dengan rapi.
Lalu keluar.
Pintu berbunyi pelan. Aku menatap ke arah pintu beberapa detik.
Sepuluh detik.
Dua puluh detik.
Lalu aku duduk.
Tidak bisa.
Aku tidak bisa membiarkan ibu pergi sendirian.
Aku bangun pelan.
Berjalan tanpa suara.
Membuka pintu sedikit.
Mengintip tapi aku tahu arah ibu.
Aku keluar pelan-pelan seperti pencuri kecil yang tidak mau ketahuan. Langkahku mengikuti bayangan ibu dari kejauhan. Tanah dingin di kakiku. Angin malam menyentuh kulit. Aku memeluk diriku sendiri.
Kenapa malam selalu lebih dingin ya…
Aku berjalan lebih cepat sedikit. Hampir menyusul ibu. Tapi tiba-tiba
“Aduh!”
Aku berhenti.
Mengangkat kaki, perih sekali.
“Apa ini…” gumamku.
Aku mencoba melihat gelapnya malam tapi rasa itu jelas.
Aku digigit sesuatu mungkin semut atau… sesuatu yang lebih besar.
Aku meringis.
Sedikit panik.
Dan… tentu saja…ketahuan.
“Caca?”
Suara ibu.
Aku langsung diam. Aku tertangkap.
Aku mendekat pelan.
“Sakit, Bu…” kataku.
Ibu berjongkok.
“Kenapa ikut?” tanyanya.
Aku menunjuk kakiku.