Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Bukan karena waktunya berubah tapi karena pikiranku tidak mau diam.
Aku berbaring di samping ibu. Mendengar napasnya yang pelan. Teratur. Sesekali terdengar sedikit berat. Mungkin lelah. Seharian di sawah, lalu malam masih mengambil air.
Aku membuka mata. Melihat ke arah ibu. Wajahnya tampak tenang tapi… ada sesuatu yang berbeda.
Entah apa.
Aku tidak bisa menjelaskan.
Aku hanya… merasa.
“Bu…” panggilku pelan.
“Iya…” jawab ibu setengah sadar.
“Ibu capek ya?”
Ibu tidak langsung menjawab beberapa detik.
“Sedikit.”
Aku terdiam.
Biasanya ibu selalu bilang “tidak apa-apa”.
Tapi kali ini…
“sedikit.”
Aku menarik selimut lebih rapat.
Mendekat sedikit.
“Besok tidak usah ke sawah,” kataku.
Ibu tersenyum kecil.
Dalam gelap, aku bisa merasakannya.
“Kalau tidak ke sawah, kita makan apa?” jawabnya pelan.
Aku langsung diam.
Pertanyaan itu…tidak butuh jawaban. Aku memejamkan mata lagi tapi tidak benar-benar tidur.
Hanya diam.
Mendengarkan.
Merasakan.
Dan… memikirkan hal-hal yang biasanya tidak kupikirkan.
Tentang ibu.
Tentang ayah.
Tentang rumah kami.
Tentang nasi yang kadang harus dibagi.
Tentang telur yang selalu terasa cukup… walaupun sebenarnya tidak.
Aku menarik napas.