Kutilang

Nova Yarnis
Chapter #16

Ibu, Ayah, dan Janji yang Diam-Diam

Beberapa hari setelah ibu sakit, rumah kami terasa berbeda. Tidak berubah bentuk dan isinya. Tapi… suasananya lebih pelan dan hati-hati. Seperti semua orang sedang berjalan tanpa ingin menimbulkan suara.

Ibu sudah mulai bangun. Sudah bisa duduk dan tersenyum tapi belum kembali seperti biasanya. Belum ke sawah karena masih bisa banyak bergerak. Dan… itu membuatku sedikit aneh.

Selama ini, ibu selalu bergerak, selalu sibuk.

Sekarang…ibu diam lebih lama dan aku… tidak terbiasa.

“Ca, ambilkan air ya,” kata ibu dari tempat tidur.

“Iya, Bu!”

Aku langsung berdiri dengan cepat. Lebih cepat dari biasanya. Aku bahkan hampir tersandung karena terlalu buru-buru.

Aku membawa gelas dengan dua tangan seperti membawa sesuatu yang sangat penting.

“Ini, Bu,” kataku.

Ibu tersenyum.

“Terima kasih.”

Aku duduk di samping ibu melihatnya minum dengan pelan. Aku tidak tahu kenapa… tapi aku merasa senang bisa melakukan hal sekecil itu. Biasanya… ibu yang melakukannya untukku sekarang… aku bisa sedikit membalas. Walaupun… sangat sedikit.

“Apa lagi, Bu?” tanyaku.

Ibu menggeleng.

“Sudah.”

Aku tetap duduk. Tidak pergi. Hanya… ingin dekat.

Ibu mengusap rambutku.

“Caca kenapa dari tadi di sini?” tanyanya.

Aku mengangkat bahu.

“Tidak apa-apa.”

Ibu tersenyum akupun ikut tersenyum tapi… tidak kosong.

***

Ayah juga berubah. Sedikit. Topinya masih sama apalagi nasihatnya. Tapi… ada sesuatu yang lebih sering kulihat. Ayah lebih sering masuk ke kamar melihat ibu, menanyakan keadaan. Kadang hanya diam di dekat pintu membantu hal-hal kecil. Itu membuatku sadar sesuatu. Ayah memang tidak banyak bicara tapi… bukan berarti tidak peduli.

Malam itu, kami makan bersama lagi seperti biasa, tapi kali ini… ibu duduk di dekat kami walaupun tidak banyak makan. Hanya sedikit.

Aku melirik ayah.

Menunggu.

Satu.

Lihat selengkapnya